SLEMAN – Menyambut pergantian tahun, sejumlah anak muda yang tergabung dalam Paguyuban Sanggraheng Lokika mengadakan seremonial khusus. Mereka menggelar Harmoni Nusantara #2 yang menampilkan ragam kekayaan Nusantara.
Bertempat di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM Jogjakarta (30/12), acara bertajuk Sinergi Ragam Budaya Bangsa itu berlangsung semarak. Adhy Prihantoro, panitia penyelenggara, menyatakan, kegiatan ini sebagai pencerahan mengenai kekayaan serta keragaman budaya Nusantara.
“Sekarang seakan menjadi sebuah fenomena yang lumrah di mana semangat Nusantara mulai luntur. Kita tidak memahami kekayaan budaya yang dimiliki, bahkan kerap timbul konflik karena adanya perbedaan,” kata Adhy.
Melalui tema ini, Paguyuban Sangraheng Lokika ingin mengangkat kekuatan dari sinergitas beragam budaya Nusantara. Ragam budaya Nusantara diangjkat dan dihadirkan karena merupakan pengikat persatuan bangsa Indonesia. Perbedaan ini pun merupakan kekuatan yang sangat luar biasa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Selain wujud kesatuan dan persatuan, Harmoni Nusantara #2 juga sebagai wahana melestarikan ragam kesenian dan kekayaan budaya nusantara. Acara ini pun diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran serta semangat nasionalisme melalui kecintaan terhadap budaya Nusantara.
“Harmoni sendiri merupakan pencapaian ideal dalam sebuah tatanan kehidupan. Di mana setiap individu dituntut untuk senantiasa menjaga kerukunan dan keserasian dalam bermasyarakat,” kata Adhy.
Perwujudan harmoni Nusantara dihadirkan dalam bentuk pementasan ragam kesenian modern dan tradisional. Untuk kesenian tradisional, mengangkat kesenian dari Aceh, kesenian Jogjakarta, dan kesenian dari Nusa Tenggara Timur.
Kesenian Aceh dibawakan kelompok Rampoe. Kelompok ini adalah wadah dari para mahasiswa Sastra Asia Barat UGM. Mereka mendalami berbagai tarian asal Aceh.
Kesenian NTT diusung Sanggar Ha’e Kelo. Anggotanya adalah para mahasiswa dari Sikka, Flores, NTT.
Turut tampil Sanggar Saraswati yang merupakan sanggar kreasi anak. Sanggar ini bergerak dalam penciptaan tari, perkusi, dan dolanan bocah. Mereka membawakan beberapa tarian khas Jogjakarta.
Unsur seni modern diwakili Blind Aphrodite Band, Rumah Garuda, Saudjana World Music, dan Teater Movement. “Ppenggabungan konsep ini untuk mewujudkan kekuatan dan potensi seni yang kita dimiliki,” jelas Adhy. (dwi/kus)