MESKI ada sedikit polemik, namun dunia sastra di Jogjakarta masih berkembang subur. Setidaknya puluhan sastrawan muda lahir di DIJ. Bahkan saat ini, Jogjakarta bisa dikatakan sebagai barometer perkembangan sastra Indonesia.
Hal ini tercermin ketika para sastrawan berkumpul dalam acara Pesta Puisi Akhir Tahun di pendopo Taman Budaya Yogyakarta (TBY) hari Minggu malam (29/12). Cerpenis Joni Ariadinata mengungkapkan sastra merupakan bagian terpenting dalam seni dan budaya bangsa.
“Sastra merupakan perkembangan dari ilmu bahasa. Sastra itu penting tidak hanya sebuah susunan kalimat yang berima. Sastra merupakan salah satu penyangga dan penanda sebuah peradaban,” kata Joni.Sementara dalam perkembangannya, dunia sastra di Jogjakarta saat jauh lebih berkembang. Masuknya sastra nusantara dengan mempertahankan karakter asli menjadi sebuah aset penting. Hal ini berimbas dengan bertambah luasnya khazanah dunia sastra.
Anggota komunitas Studio Pertunjukan Sastra (SPS) Sukandar mengungkapkan masuknya sastrawan dari luar Jogjakarta ini bukanlah sebuah ancaman. Tentunya dengan menyikapi secara bijak. Perkembangan ini justru bisa menjadi sebuah pemacu. Dimana sastrawan Jogjakarta semakin terpanggil untuk tetap eksis dalam berkarya.
“Jogjakarta seakan menjadi barometer perkembangan sastra Indonesia. Dengan adanya ini, justru kita harus semakin sadar bahwa potensi sastra di Indonesia itu besar. Sastrawan daerah tidak perlu mengubah jati diri, karena dialek mereka sudah menjadi ciri khas,” kata Sukandar.
Dalam kesempatan ini, para sastrawan dari Aceh, Jambi, Tasikmalaya, Brebes, Jogjakarta, Madura dan Makassar membacakan ragam karya sastra. Menyajikan dengan dialek daerah masing-masing, para sastrawan ini mampu membuka pengetahuan baru.
Selain menampilkan sastra nusantara, Pesta Puisi Akhir Tahun ini juga menyajikan penampilan komunitas sastra. Turut tampil pula para pemenang baca puisi yang diadakan oleh SPS di TBY secara rutin.”Pementasan ini tidak hanya menampilkan sastra secara murni. Juga bentuk kolaborasi sehingga menjadi musikalisasi sastra, sastra gerak, dan berbagai bentuk perkembangan sastra lainnya,” kata Sukandar.Pesta Puisi Akhir Tahun ini menjadi penanda keakuran sastrawan di Jogjakarta. Dengan format bincang-bincang sastra, gelaran ini sudah digelar sebanyak 99 kali. Konsep bincang-bincang sastra oleh SPS ini sudah rutin digelar selama 12 tahun.
Sukandar mengungkapkan saat ini Jogjakarta memiliki kantong-kantong sastra. Hanya saja, kantong-kantong ini belum terintregrasi secara baik, sehingga menimbulkan kesan adanya perpecahan.
“Konsep secara umum sebagai media tegur sapa personal maupun komunitas sastra di Jogjakarta,” tutur Sukandar. (dwi/ila)