JOGJA dikenal sebagai kota seni dan budaya, kota multikultur dan sangat menjunjung toleransi. Namun ditengah arus interaksi budaya tersebut, unsur lokalitas kian terkikis dengan adanya kerangka wacana nasional dan internasional yang lebih modern. Ditambah lagi dengan tidak adanya transfer ilmu seni budaya yang tepat sasaran. Fenomena inilah yang menjadi perhatian Sanggar Kawung untuk bergerak bersama menjadi penyeimbang modernitas agar generasi mendatang tidak kehilangan akarnya.
Sanggar ini diinisiasi oleh para pengajar dan pelaku seni yang memiliki kepedulian betapa pentingnya transfer pengetahuan seni budaya terhadap generasi muda. Kawung mulai menjalankan visi misinya sejak Juli 2013 lalu.
“Metode yang kita gunakan sifatnya having fun, saat workshop kita serius tapi dikemas santai,” ujar Pegiat Sanggar Kawung Sekar Sari kemarin (2/1).
Seperti makna kawung yang melambangkan harapan agar manusia selalu ingat akan asal usulnya. Sanggar Kawung perlahan menjangkau generasi muda di Jogja dari berbagai jenjang dan kalangan. Mulai dari sekolah dasar, perguruan tinggi hingga komunitas. Dengan melakukan cultural campaign ke sekolah-sekolah serta komunitas dengan format penyampaian materi lewat workshop.
Selama kurang lebih satu hingga dua jam, materi yang disampaikan tidak hanya sebatas teori dan pemaparan saja. Melainkan dengan interaksi dan alat peraga. Sistem jemput bola ini cukup ampuh dan memicu motivasi. Misalnya saat materi pembuatan batik dan bermain gamelan, alat peraga ikut dibawa agar kelas presentasi dapat mencoba langsung.
Sedangkan beberapa materi yang disampaikan seperti tari, musik, teater, wayang, busana adat, upacara adat, makanan tradisional. Juga batik dan kerajinan yang masing-masing terpecah-pecah lagi. Misalnya musik ada gamelan, angklung, seruling, perkusi, dan lain sebagainya.
“Kegiatan ini juga sebuah pancingan,jika ada dari mereka yangtertarik dan ingin serius bisa kami berikan rekomendasi. Selama ini kami juga memanfaatkan Pendhapa Art Space untuk kegiatan workshop yang lebih intensif,” papar Sekar.
Menurutnya selama kurang lebih enam bulan berjalan, pancingan ini mendapat beragam respon. Beberapa ada yang antusias dan ingin lebih serius mempelajari, namun tidak jarang yang hanya menanggapi bagai angin lalu. Namun berbagai respon tersebut justru menjadikan motivasi tersendiri bagi pegiat Kawung untuk terus melangkah.
“Saya dan beberapa teman punya pengalaman mengajar seni budaya di luar negeri, dan mereka sangat tertarik. Ketika di luar orang-orang peduli, kenapa kita generasi yang ada di Jogja tidak,” ujarnya.
Proses presentasi dan sharing yang dilakukan juga memberikan manfaat dan efek lain bagi pegiat sanggar ini sendiri. Sekitar 20 pegiat komunitas yang terdiri dari beragam latar berbeda ini dalam prosesnya juga mendapatkan manfaat. Disamping itu mereka bisa memperkaya pengetahuan tentang kearifan lokal.
“Secara berjangka kita juga melakukan program training for trainers, agar masing-masing dari kita terus mengaktualisasi pengetahuan yang dimiliki. Kami juga membuka diri bagi siapapun yang ingin bergiat bersama kami,” ujar Sekar. (dya/ila)