Melestarikan dan mengembangkan batik Indonesia menjadi visi utama bagi Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekarjagad. Dalam pelaksanaannya, paguyuban yang didirikan pada 17 Mei 1999 oleh para pecita batik ini menjadikan batik sebagai wahana untuk menyejahterakan masyarakat baik lahir maupun batin.
Berawal di Jogja, hingga saat ini anggota aktif PPBI Sekarjagad telah mencapai sekitar 768 orang. Anggotanya tersebar di Madura, Malang, Surabaya, Tuban, Tulungagung, Pacitan, Solo, Semarang dan kota lainnya selain Jogja.
Ketua Umum PPBI Sekarjagad Larasati Suliantoro Sulaiman mengatakan ditetapkannya tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional memberikan tanggung jawab ke seluruh masyarakat Indonesia. Tidak terkecuali masyarakat perbatikan Indonesia. Dibalik kegemparan penetapan tersebut, ternyata kain printing motif batik memanfaatkan momen ini dengan cerdik dan gila-gilaan.
“Keberadaan printing ini sangat luar biasa dan membuat miris dunia perbatikan. Tidak hanya di Jogja tetapi seluruh Indonesia,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Dirinya mengatakan, di Jogja sendiri, yang dikenal sebagai sumber segala sumber batik klasik dan asli, tidak kuasa membendung aliran kain printing motif batik didaerahnya sendiri. Ibarat ayam mati di lumbung padi, yang paling merasakan imbasnya yakni para perajin batik.
Sesungguhnya harga selembar kain batik tidak mahal seperti yang sudah tertanam dibenak masyarakat umum. Prosesnya yang lama, pengerjaan yang membutuhkan ketelitian, ketelatenan dan kesabaran inilah yang membuatnya menjadi mahal. Bukan hanya itu, motif-motifnya yang memiliki filosofi tersendiri juga bukanlah sesuatu yang bisa dibeli dengan murah.
“Bayangkan jika membuatnya saja membutuhkan waktu dua minggu, dan hanya dihargai kurang dari seratus ribu rupiah apa itu tidak miris,” ungkapnya.
Kalau memang harus bersaing dengan printing yang harganya puluhan ribu, batik tulis jelas kalah. Tetapi, lanjut Larasati, yang namanya batik itu adalah proses dan printing itu bukanlah batik.
Tahun 2014 merupakan tantangan bagi PPBI Sekarjagad dalam upaya pelestarian dan pengembangan batik. Pihaknya terus konsisten meningkatkan kecintaan pada batik serta promosi batik. Sekarjagad tidak dapat melakukannya sendiri tetapi dengan menggandeng berbagai pihak. Misalnya dengan pameran yang tidak hanya diadakan di kota Jogja tetapi diberbagai lokasi potensial untuk dikembangkan sebagai pusat pemasaran batik.
Dirinya menambahkan, dalam rangka lebih memahami batik, dilakukan dengan cara penelusuran keberadaan aneka corak motif batik di berbagai daerah di pulau Jawa, bali dan Kalimantan. Kegiatan ini akan diteruskan dengan kunjungan ke daerah lain di seluruh Indonesia bahkan ke luar negeri. Seperti tahun 2013 kemarin, Sekarjagad memberikan perhatian khusus pada perajin batik dan menggandeng pecinta batik Madura untuk mengembangkan batiknya. (dya/ila)