SEMIN – Korban kebakaran Pasar Semin empat hari lalu pusing. Mereka belum bisa beraktivitas karena janji pemerintah membangun pasar darurat hingga kini belum terealisasi. Padahal mereka berurusan dengan pinjaman yang harus dikembalikan setiap bulan.
Salah seorang pedagang, Agus Setiawan, 50, warga setempat tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Meski dua kios dan empat lapak bersertifikat miliknya hanya menyisakan puing reruntuhan dia berusaha bangkit.
“Kami memohon agar pemerintah bergerak cepat menyediakan lokasi pasar darurat. Modal kami berjualan pinjaman, jika aktivitas terhenti bagaimana bisa nyaur utang (membayar utang) bank dan perusahaan,” kata Agus Setiawan ditemui di rumahnya (2/1).
Dia menjelaskan, hampir seluruh pedagang memulai usaha dari hasil pinjaman. Besaran pinjaman beragam. Agus setiawan sendiri mengaku harus menyediakan Rp 10 juta per bulan untuk mengangsur. Namun karena sekarang usahanya sedang terkena musibah, hanya permohonan bantuan pemkab yang dia minta.
“Kami juga memohon bank dan perusahaan memaklumi jika pascamusibah ini kesulitan ngangsur. Bukan tidak mau membayar, tetapi kami sedang kesulitan, mohon dimengerti. Percayalah, tidak mungkin lepas tanggung jawab,” ucap pria yang telah berjualan di Pasar Semin sejak 1989.
Salah seorang sopir distributor pemasok kebutuhan pasar, Tohir memahami kondisi pelanggannya. Di lokasi tersebut dia memiliki 10 pelanggan, namun yang menjadi korban kebakaran sebanyak empat orang. Rata-rata pinjaman mereka berkisar Rp 10 juta hingga Rp 20 juta.
“Saya juga bingung harus bagaimana menagih. Bos saya sudah tahu musibah kebakaran ini,” katanya.
Sementara itu Kepala Dinas Pasar Pemkab Gunungkidul Widagdo mengatakan setelah melakukan pendataan kerugian yang mencapai Rp 7 miliar. Kerugian fisik ditaksir Rp 4,5 miliar, kerugian barang dagangan Rp 2,6 miliar.
Lalu kaitannya dengan pasar darurat, diakui memang ada rencana seperti itu namun belum bisa memastikan kapan akan dibangun. “Namun itu masih menunggu anggaran pemkab,” ujarnya.
Yang bisa dilakukan sekarang adalah meminta pedagang bersabar. Kios yang masih bisa digunakan dipersilahkan untuk ditempati kembali. Prinsipnya jangan sampai menggunakan taman parkir karena itu bisa memicu masalah baru. “Mengenai keluhan pinjaman dari pedagang kami tidak bisa berbuat banyak karena memang belum ada program tersebut,” ujarnya.
Kapolres Gunungkidul AKBP Faried Zulkarnain mengatakan, sudah berkoordinasi dengan tim laboratorium forensik (Labfor) Semarang untuk mengungkap penyebab terjadinya kebakaran. “Hasil penyelidikan, (penyebab terjadinya kebakaran) diduga karena korsleting listrik,” terangnya. (gun/iwa)