Menikah yang diakui negara bagi sebagian masyarakat ternyata belum familier. Mereka memilih menikah siri atau agama. Meski Kementerian Agama membuka kemudahan bagi pasangan yang akan menikah secara resmi atau legal.
HERI SUSANTO, Wates
HIDUP berkeluarga adalah impian setiap manusia. Sebab, dengan berkeluarga, manusia mendapatkan keturunan. Tapi, bukan berarti, keluarga ini identik dengan pengakuan dari pemerintah yang dibuktikan surat nikah pasangan suami-isteri dari Kementerian Agama.
Di Kulonprogo, setidaknya masih ada masyarakat yang sudah puluhan tahun hidup bersama tanpa ada ikatan legal. Mereka hanya diikat dengan penikahan siri yang sah secara agama. Tapi, negara tak mengakui.
Hal ini terlihat saat gelaran Kantor Kementrian Agama Kabupaten Kulonprogo berupa nikah bersama gratis (2/1) di Masjid Agung Wates. Ada delapan pasangan yang memanfaatkan nikah gratis tersebut. Mereka mengikuti nikah gratis ini karena sudah lama hidup bersama.
Meski biaya tak besar sampai jutaan rupiah, bagi beberapa masyarakat ini masih dianggap besar untuk urusan melegalkan pernikahan mereka. Inilah yang kemudian membuat delapan pasangan suami-isteri ini akhirnya benar-benar ingin mendapatkan pengesahan dari negara.
“Sebenarya kami ingin nikah resmi memiliki kekuatan hukum negara. Tapi, tidak punya uang,” keluh Heriyanto dan Parinem, pasangan dari Tuksono, Sentolo, kemarin.
Senada dengan Heriyanto, Badru Iwa dan Djumiyati, yang merupakan pasangan tertua merasakan tak ada kepastian hukum. Baik itu atas pernikahannya maupun kepada anak-anaknya. Padahal, keluarga perlu kepastian hukum tersebut.
“Kalau mau membagi warisan, juga jadi sulit. Itu yang membuat kami berniat mengikuti nikah gratis ini,” tutur Badru.
Pasangan yang sudah 10 tahun hidup bersama dan mempunyai dua anak ini menambahkan, sejak awal dirinya memang berharap nikah secara resmi atau legal. Tapi, ada beberapa kendala yang membuat mereka akhirnya memilih nikah siri.
“Untuk mengurus surat-surat pengantar sulit. Jadi, terpaksa nikah siri terlebih dahulu,” keluhnya.
Selain kedua pasangan tersebut ada Jumbadi-Sabariningsih dari Garongan, Panjatan; Bambang Priya-Sumarni, Plumbon, Temon; Tukiyat-Jamronah, Kembang, Nanggulan; Sukoco-Dwi Erni Handayani, Karangwuni, Wates; Parija-Chotimah, Hargowilis, Kokap; dan Warsono-Tika Mulatsih, Hargorejo.
Kepala Kemenag Kulonprogo Edhi Gunawan menyatakan, nikah bersama gratis tersebut merupakan rangkaian Hari Amal Bakti (HAB) Ke-68 Kemenag. Semua biaya baik itu transpor, rias pengantin, suvenir, biaya catat nikah, snack, dibiayai Kemenag sebesar Rp 960 ribu per pasangan.
“Ini untuk memberikan pelayanan, meningkatkan peran dan mendekatkan Kemenag dengan masyarakat. Juga membantu masyarakat membentuk keluarga bahagia sesuai tuntunan agama dan legal sesuai hukum negara,” katanya. (*/iwa)