Markas Komando Resort Militer (Korem) 072/Pamungkas di Jalan Ngupasan, Jogja, menyimpan kisah sejarah terbentuknya negeri ini. Kompleks bangunan yang berdekatan dengan Istana Presiden Gedung Agung tersebut pernah menjadi kediaman Wakil Presiden I RI Muhammad Hatta saat ibu kota negara pindah dari Jakarta ke Jogjakarta 6 Januari 1946.
HERI SUSANTO, Jogja
SOSOK Wapres Muhammad Hatta memiliki kehidupan pribadi yang tak terkekspos. Hatta dikenal agak tertutup terkait keluarganya.Tapi, bukan berarti tak ada kisah Hatta yang tak terekam. Di salah satu sudut pusat Kota Jogja, kawasan Malioboro, ada bangunan yang menjadi saksi bisu kehidupan pribadi Hatta.
Hatta pernah tinggal di rumah dinas yang terletak di kompleks Korem 072/Pamungkas. Meski tak lama, hanya sekitar tiga tahun, Hatta pernah melewatkan hari-harinya di rumah yang berada di sebelah utara Gedung Agung itu.
Di bangunan dengan gaya indish ini Hatta menikmati hari-harinya memimpin negara ini bersama Presiden I RI Soekarno. Saat usia republik masih sangat muda, setengah tahun, Hatta hidup di bangunan yang kini menjadi Makorem 072/Pamungkas.
Hatta tidur di sebuah kamar yang cukup luas. Kamar untuk beristirahat sang proklamator itu berbentuk persegi panjang dengan ukuran delapan kali empat meter. Di samping kamar tidur Hatta itu ada sebuah ruangan untuk dapur.
Sekarang kamar tidur Hatta tersebut sudah banyak mengalami perubahan. Ini karena ruangan itu telah menjadi ruang kerja bagi Komandan Korem 072/Pamungkas. Alhasil, bentuknya pun diyakini sudah tidak seperti dahulu.
“Setiap ganti pimpinan (komandan, red) selalu berganti. Tergantung selera dari komandan,” terang Kepala Seksi Teritorial Danrem 072/Pamungkas Letkol Indro Respati saat menjelaskan kepada peserta Jelajah Warisah Budaya kemarin (8/1).
Tak banyak memang rekam jejak kehidupan pribadi Hatta di sini. Tapi, ada sebuah peristiwa menarik kala pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar rapat di Gedung Agung. Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta saat itu selalu berkunjung ke makorem ini.
“Beliau selalu jalan kaki ke sini. Jika ada agenda lain, beliau menyimpang menyempatkan ke sini,” imbuhnya.
Kedatangan putri Hatta itu dalam rangka ingin mengunjungi tempat kelahirannya. Ya, sekitar 66 tahun silam atau tepatnya 21 Maret1947, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini lahir di salah satu ruangan yang ada di bangunan ini.
“Bu Meutia pasti masuk di ruangan sebelah barat. Dulu merupakan kamar tempat beliau lahir. Sekarang sudah menjadi ruangan untuk staf,” lanjutnya.
Gedung yang dibangun 1909 ini memang pernah menjadi tempat yang bersahabat bagi peraih gelar profesor dari Universitas Indonesia itu. Meutia memiliki kenangan di bangunan yang pada 1950 dimanfaatkan sebagai kantor dan rumah dinas Wali Kota Jogja pertama yakni Mister Soedarisman Poerwokoesoemo tersebut.
Makanya, lanjut Indro, tak mengherankan jika Meutia selalu menyempatkan diri mengunjungi “bekas” rumahnya itu. “Bangunan ini memang bersejarah. Bahkan termasuk cagar budaya. Hanya sejauh mana bangunan ini dimanfaatkan, tidak banyak tercatat,” keluh Indro.
Selain pernah menjadi tempat militer penjajah Belanda, rumah dinas Hatta, rumah dinas wali kota pertama, dan makorem, bangunan seluas kurang lebih 600 meter persegi itu juga sempat dimanfaatkan untuk kantor Komando Wilayah Pertahanan II. “Baru 1982 sampai sekarang menjadi makorem,” imbuhnya.
Ketiadaan catatan itu, menurut Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya) Jhohanes Marbun, memperlihatkan masih rendahnya goodwill pemerintah dalam melindungi situs-situs sejarah. “Kami sedang upayakan mendorong wali kota dan Danrem untuk bisa menggali sejarah bangunan ini,” tuturnya.
Ia menambahkan, sejarah bangunan yang pernah menjadi rumah dinas Wapres pertama tentu sangat penting. Sebab, dari bamhumam itu masyarakat bisa mengetahui kehidupan pribadi seorang Wapres. “Kebiasaan apa saja yang dilakukan Hatta saat luang, ini bisa menginspirasi generasi muda,” lanjutnya. (*/amd)