Langkah strategis dan tegas PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk menata semua stasiun layak diapresiasi. Upaya menghapus kesan kumuh dan kotor stasiun kereta api (KA) yang selama ini melekat, sampai juga di Stasiun KA Wates. Sejumlah kios yang mengganggu kenyamanan penumpang bakal dibongkar.
ALI MUFIDZ, Wates
UPAYA PT KAI untuk terus melakukan penataan di kawasan stasiun ternyata tidak mudah. Terbukti dari 11 kios baik permanen maupun non-permanen yang berdiri di sekitar stasiun Kereta Api (KA) Wates merasa keberatan dengan rencana penataan yang mengharuskan mereka tidak berjualan lagi di kawasan itu.Salah seorang pemilik kios di Stasiun Wates Didik Purwanto mengatakan, upaya penataan yang dilakukan PT KAI tentu memiliki tujuan baik mengingat pelayanan publik memiliki standar baku. Namun jika penataan itu justeru membunuh sumber pendapatan pedagang, hal itu dianggap telah mengesampingkan asas toleransi.penataan kami rasa memiliki tujuan bagus. Yang kami sayangkan, kenapa pihak PT KAI tidak menawarkan solusi yang bijak. Sementara kios yang beroperasi sejak lama harus dibongkar,” kata Didik (9/1).Memang untuk membongkar bangunan, masing-masing pemilik kios mendapatkan ganti rugi. Untuk kios permanen sebesar Rp 250 ribu per meter, sedangkan kios non-permanen mendapatkan uang Rp 150 ribu per meter. Luas kios sendiri berukuran 9 meter persegi. Namun, ganti rugi itu bukan solusi yang diinginkan para pemilik kios.Apalagi wacana yang muncul bahwa PT KAI hanya akan melakukan penataan sekaligus pembongkaran tanpa ada penyediaan lahan baru untuk mereka. Selama ini, tahapan yang dilakukan PT KAI hanya sebatas menawarkan konsep penataan. Sedangkan penyediaan lahan baru di sekitar stasiun, tidak ada jawaban yang memuaskan.”Intinya, kami diberi waktu sampai tanggal 18 Januari 2014. Jika tidak diindahkan, uang ganti rugi tidak diberikan,” kata Didik.Hal senada dikatakan pemilik kios lainnya, Niyem. Pemilik warung tongseng dan sate ini kecewa dengan rencana penataan kawasan stasiun Wates. Sejak 2004, ia rajin membayar retribusi kepada pihak stasiun, namun sejak awal tahun ini tidak ada pungutan lagi karena kios akan dibongkar.”Ya manut saja, wong selama ini saya juga rajin bayar retribusi. Per tahunnya kami membayar Rp 765 ribu,” kata Niyem.Karena keberadaan kios di kawasan Stasiun Wates ini merupakan bentuk kerjasama salah satu CV dengan Pemkab Kulonprogo serta PT KAI, maka beberapa perwakilan pemilik kios kemarin mengadukan ke pemerintah setempat. Mereka tetap mengupayakan ada solusi terbaik dan tidak mengancam penghasilan mereka sebagai pedagang. (*/iwa)