*Awake Dhewe Mabur, Ora Melumpat
LEVITASI bagi kalangan pecinta fotografi, baik itu yang professional maupun sekadar hobi bukanlah sesuatu hal yang asing. Di dunia fotografi, levitasi merupakan salah satu teknik fotografi yang membuat sesuatu atau seseorang seolah-olah tampak melayang melawan gravitasi. Hasil jeptretannya bukan saja unik, terkadang juga menimbulkan tanda tanya dan rasa penasaran yang melihatnya.Levitasi Hore Jogja adalah salah satu pegiat dari fotografi levitasi ini. Berawal dari kemunculan Levitasi Hore di Jakarta pada September 2011, Levitasi Hore region Jogja muncul selang beberapa bulan. Tepatnya pada 29 Maret 2012 lalu dan menjadi wadah bagi siapapun uang memiliki ketertarikan dengan fotografi levitasi. “Kita bukan komunitas fotografer, tapi komunitas fotografi dan sifatnya fun saja,” ujar Pengurus Levitasi Hore Jogja Ady Setia Prabowo kepada Radar Jogja belum lama ini.Seperti nama komunitas ini sendiri yang mengusung kata hore, komunitas penggemar fotografi levitasi ini tidak melulu serius membahas teknik fotografi saja. Tetapi lebih mengutamakan bagaimana bisa saling berbagi cara membuat foto levitasi dan membuat karya dengan cara menyenangkan.Ingin berbagi dan belajar bersama, komunitas ini secara rutin mengadakan kegiatan pertemuan atau kopi darat sebagai wadah sharing. Juga mengadakan hunting bareng (photo walk) yang diagendakan setiap minggu terakhir di setiap bulannya. “Kalau kopdar kita adakan sebelum dan setelah photo walk, yang setelah sifatnya evaluasi. Setiap kegiatan ini kita juga mengundang teman komunitas lainnya, baik itu komunitas fotografi maupun komunitas lainnya dengan tema atau ide berbeda,” papar Ady.Pengurus lain, Joko Setiawan menambahkan selain membuat kegiatan yang sifatnya umum, komunitas ini juga mengasah ide dan kreativitas anggota dengan mengadakan kegiatan yang dinamakan Project Hore. Kegiatan ini sifatnya lebih terkonsep yang digarap secara bersama oleh semua anggota komunitas mulai dari ide hingga gelar karya. “Tahun ini gelar karya atau pameran rencana akan kita adakan saat perayaan ulang tahun kedua besok. Bukan hanya karya teman-teman anggota tetapi juga karya teman-teman yang sudah mengikuti photo walk, namun tetap ada kurasi,” jelasnya.Menurutnya, levitasi berbeda dengan foto loncat (jump shot) ataupun yang seolah mental. Dalam foto levitasi objek benar-benar terlihat melayang tanpa beban atau bisa disebut juga terbang tanpa bantuan apapun. Dalam menghasilkan foto ini, juga didukung model untuk berpose melayang. Mulai dari ekspresi muka hingga properti yang digunakan. Penguasaan teknik si fotografer dan kemampuan sang model adalah paduan yang harus saling mendukung. “Istilahnya benar-benat harus ada chemistry antara fotografer dan model agar menemukan timing yang pas untuk menghasilkan foto melayang,” ujarnya.Levitasi biasanya selalu terkonsep, namun sifatnya kondisional. Meskipun foto levitasi juga bisa dihasilkan dengan cara editing photoshop trik. Namun teman-teman komunitas ini lebih menikmati proses foto levitasi yang murni. Memang untuk beberapa pose yang mustahil untuk dilakukan dengan mengandalkan teknik, lebih banyak memilih trik digital. “Karena sebenarnya trik photoshop di levitasi juga dihalalkan,” ungkapnya.Saat ini ada sekitar 30-an anggota yang aktif mengikuti kegiatan Levitasi Hore Jogja. Selain terus konsisten mengadakan program kegiatan yang sudah ada, komunitas ini juga berencara membuat program lain. Misalnya mengadakan kopdar untuk region DIJ dan Jateng dan juga membuat proyek videographi. “Kedepannya foto levitasi bisa diketahui lebih luas lagi, karena di Indonesia sendiri baru mulai dikenal dua tahun terakhir ini. Kami juga terbuka bagi siapa saja yang ingin mencoba, tidak hanya pakai kamera digital, tapi juga bias pakai kamera hp ataupun poket,” ujarnya. (dya)