JOGJA- Indonesia Court Monitoring (ICM) menyeriusi temuan dari sidang perkara korupsi hibah tembakau Virginia di Pengadilan Tipikor Jogja Rabu (8/1). Saat sidang dengan agenda pemeriksaan saksi mantan Bupati Bantul Idham Samawi, Ketua Majelis Hakim Soewarno SH dinilai bertindak kurang patut. Sebab, saat hendak mengajukan pertanyaan kepada Idham, sering berucap “nyuwun sewu dan minta maaf”. “Kami akan laporkan ke Komisi Yudisial (KY),” ungkap Direktur ICM Tri Wahyu Kus Hardiyatmo kemarin (9/1).
Dikatakan, ketua majelis hakim itu diduga telah melanggar kode etik dan pedoman perilaku hakim yang diatur dalam peraturan bersama Mahkamah Agung (MA) dengan KY atas sikapnya yang tidak independen tersebut.
Adapun poin-poin pelanggaran terkait kode etik hakim antara lain bersikap adil dan mandiri. Di aturan kode etik hakim, ada larangan hakim bersikap, mengeluarkan perkataan atau tindakan yang menimbulkan kesan memihak pada para pihak, termasuk saksi-saksi.
Terkait sikap mandiri, hakim harus menjalankan fungsi peradilan secara mandiri dan bebas dari pengaruh dari pihak manapun. “Hakim wajib bersikap mandiri atau independen guna memperkuat kepercayaan masyarakat atas badan peradilan,” ingatnya.
Sikap yang diamanatkan dalam kode etik hakim itu tak tercermin dalam sidang saat hakim mencecar pertanyaan ke Idham. Selain tak lazim, tindakan ketua majelis hakim itu cukup mengagetkan. “Baru pertama kali ada dalam sejarah pengadilan tipikor,” kritiknya.
Bila ICM hendak melapor ke KY, lain halnya dengan Jogja Corruption Watch (JCW). Kadiv Investigasi JCW Maryanto Rodzali SH mendesak Kajati DIJ mengevaluasi ulang kinerja jaksa penuntut umum (JPU) yang ditugaskan menangani perkara hibah tembakau virginia dengan terdakwa mantan Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul Edy Suharyanta.
Saat Idham menjadi saksi itu, materi pertanyaan yang diajukan JPU dinilai kurang menukik. Dampaknya tidak banyak informasi atau fakta-fakta hukum yang dapat digali. Bahkan materi pertanyaan ada yang tidak terkait dengan perkara.
“Kami berharap Kajati mengadakan evaluasi. Jangan sampai terulang. Kalau bertanya ke saksi saja kesannya ada ewuh pakewuh, bagaimana bila kelak menyidangkan perkara hibah Persiba,” katanya.
JCW berharap ketika jaksa berhadapan dengan Idham harus tetap professional dan proporsional menjalankan tugasnya sebagai penegak hukum. Maryanto berharap hukum jangan menjadi pedang yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas. “Masyarakat mendukung setiap upaya penuntasan kasus korupsi oleh kejati,” tegasnya. (mar/kus)