JOGJA – Setelah diturunkannya harga elpiji ukuran 12 kilogram pada Selasa (7/12) lalu, Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) DIJ mencatat tidak terjadi gejolak di pasaran. Kondisinya masih normal seperti biasa.Ketua Hiswana Migas DIJ Siswanto mengatakan saat ini bagi agen elpini tinggal melaksanakan keputusan pemerintah tersebut. Meskipun banyak agen yang mengalami kerugian, karena terlanjur membeli dengan harga lama. Namun tidak banyak yang bisa diperbuat. “Sudah risiko bagi agen sebagai korban kebijakan pemerintah itu,” jelas Siswanto kemarin (9/1).Siswanto melanjutkan, berdasarkan pantauan Hiswana Migas DIJ sebenarnya dengan kenaikan elpiji 12 kilogram yang mencapai Rp 122 ribu lalu, tidak banyak dampaknya. Masyarakat, sebutnya, juga masih membeli meski harga dinaikkan. Ketakutan akan terjadi migrasi ke elpiji 3 kilogram juga tidak terjadi.”Elpiji 12 kilogram kan memang diperuntukkan bagi kalangan menengah atas, sebetulnya tidak ada masalah,” ungkapnya.Menurutnya saat ini harga elpiji di Indonesia masih yang paling murah di ASEAN. Hingga saat ini, pihaknya mengaku juga belum menemui agen yang menjual elpiji diatas harga yang ditentukan. Mengenai ketersediaan, menurut Siswanto, sekarang ini juga masih aman dan mudah didapatkan.Assistant Manager External Relations Pertamina Jateng dan DIJ Robert Marchelino Verieza Dumatubun menjelaskan Pertamina akan terus memperketat pengawasan . Juga memberikan sanksi tegas terhadap agen yang melakukan pelanggaran. Baik mengenai harga jual maupun tindakan penimbunan yang akan berdampak pada ketersediaan elpiji nonsubsidi 12 kilogram dan elpiji subsidi 3 kilogram. “Sanksi kepada agen yang melanggar akan langsung dilakukan pemutusan hubungan usaha,” tegasnya. (pra/ila)