MAGELANG – Naiknya harga elpiji (LPG, Red) ditambah langka barangnya, diwaspadai Polres Magelang Kota. Polres melakukan pengawasan ketat, kemungkinan terjadinya penyelewenangan berkenaan dengan fluktuasi harga elpiji nonsubsidi 12 kilogram. Biasanya, momen seperti ini disinyalir rawan penimbunan. Bahkan, penyuntikan tabung gas yang merugikan masyarakat.
Kapolres Magelang Kota AKBP Tommy Aria Dwianto membenarkan pengawasan dilakukan pihaknya pada beberapa agen dan SPBE, kemarin (9/1). Menurutnya, tindakan tegas akan dilakukan, jika ditemukan ada pihak yang menimbun atau menyuntik isi elpiji.
“Kami tidak segan menindak dan menangkap penimbun maupun penyuntik gas LPG. Ini menjadi komitmen kami, agar warga tidak khawatir dengan kecenderungan harga LPG 12 kilogram yang fluktuatif,” kata Tommy dijumpai di SPBE Kayulima Utama Kota Magelang.
Tommy yang didampingi Kapolsek Magelang Selatan Kompol Sri Wigiyanti melanjutkan, Polsek juga menerjunkan tim guna melakukan pengawasan praktik nakal penimbun dan penyuntik gas elpiji. Menurutnya, khusus praktik penyuntikan biasanya isi gas elpiji 3 kilogram (subsidi) dimasukan ke tabung 12 kilogram. Kemudian, dijual di pasaran.
“Bayangkan saja keuntungannya berapa, sangat besar sekali. Itu terjadi baru-baru ini di Muntilan, Kabupaten Magelang. Tentunya, kami tidak ingin hal yang merugikan masyarakat tersebut, terjadi juga di Kota Magelang,” tegasnya.
Sementara itu, Sri Wigiyanti meminta warga proaktif. Jika menemukan dugaan penyelewengan, masyarakat segera melapor pada petugas.
Langkah pengawasan juga dilakukan Polsek Magelang Utara dan Polsek Magelang Tengah. Kapolsek Magelang Utara, Kompol Dyah Wuryaning Hapsari menyempatkan memeriksa dan mengecek proses pendistribusian di agen di wilayah hukumnya.
Selain memeriksa kondisi tabung nonsubsidi 12 kilogram, kepolisian juga mengecek kondisi di salah satu agen elpiji di Jalan A Yani, Kota Magelang.
“Untuk menghindari adanya indikasi kenakalan agen gas. Sejauh ini, kami tidak menemukan dugaan penyelewenangan maupun penyuntikan. Sejauh ini di Magelang Utara kondusif,” tegas Dyah.
Dyah menegaskan, pelaku penimbunan dan penyuntikan gas bisa dijerat UU Perlindungan Konsumen, UU Migas, dan UU Metrologi Legal. Karena itu, pihaknya tak segan menangkap pelaku curang tersebut dan memprosesnya secara hukum.
Terpisah, Manager Operasional SPBE Kayulima Utama Kota Magelang, Arif Nirwanto mengaku, di stasiun pengisiannya, belum pernah terjadi tindak kecurangan. Selain mendapat pengawasan ketat dari Pertamina, juga ada alat khusus untuk menyesuaikan berat di elpiji 3 kilogram, saat pengisian.
“Ada alat khusus. Ketika sudah penuh 3 kilgoram, pengisiannya berhenti otomatis. Tiap hari, kami mendapat tim pemeriksa dari Pertamina. Jadi tidak mungkin kalau proses pengisian dikurangi,” kata pria berusia 31 tahun tersebut.
Ia menambahkan, sebenarnya masyarakat bisa lebih awas menilai keaslian tabung gas 3 kilogram bersubsidi. Masyarakat perlu curiga kalau ada kendaraan pengangkut elpiji 3 kilogram tanpa nama agen atau pangkalan. Demikian juga dengan tanda tabung gas 3 kilogram. Untuk Kota Magelang, warganya kuning.
“Kalau warna hijau itu di Kabupaten Magelang. Dari tutupnya sudah kelihatan, dari mana tabung itu berasal. Kalau berbeda warna, bisa jadi itu karena ada oknum yang bermain curang,” katanya.(dem/hes/rv)