JOGJA-Pemberian honor bagi kerabat dan abdi dalem yang bersumber dari dana keistimewaan (danais) terus mengundang perdebatan di internal Kadipaten Pakualaman. Setelah kubu KGPAA Paku Alam IX Anglingkusumo melalui Penghageng Kasentanan KGPH Widjojokusumo keberatan menerima honor dari danais, kerabat Pakualaman lainnya Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Roy Suryo Notodiprojo memberikan pandangan berbeda.
Roy yang sekarang menjabat menteri pemuda dan olahraga itu berpendapat, sentana dalem (bangsawan) yang memiliki bergelar kanjeng tidak perlu mendapatkan honor tersebut. Honor itu lebih tepat diberikan kepada abdi dalem berpangkat bekel, lurah, atau pangkat di bawah kanjeng. “Mereka lebih pantas menerimanya. Kami-kami tidak perlu lah. Diberi gelar saja sudah terima kasih,” ungkap Roy usai acara Wiyosan Dalem ke-78 KGPAA Paku Alam IX di Bangsal Sewatama Pakualaman, kemarin (9/1).
Meski bergelar KRMT, putra alm. KRT Soejono Prawirohadikusumo itu mengaku tidak ikut menerima honor danais. Bagi Roy, pemilik gelar kanjeng bila di lingkungan Polri atau TNI adalah perwira menengah. Pangkat bupati anom setara dengan Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) atau letnan kolonel. Sedangkan bupati sepuh setingkat dengan pangkat komisaris besar (kombes) atau kolonel. Sedangkan bagi pangeran sama dengan pangkat jenderal. “Masak berpangkat jenderal masih menerima honor dari danais,” sindirnya.
Di lingkungan Pakualaman, mereka yang punya gelar kanjeng, baik bupati anom, bupati sepuh, hingga pangeran yang masuk sedherek dalem (saudara raja) ikut menerima danais. Untuk keraton, sultan mendapatkan honor Rp 3,8 juta dan adipati Paku Alam Rp 3,5 juta per bulan.
Bagi Roy, karena danais berasal dari APBN yang notabenenya merupakan uang rakyat, maka sesungguhnya rakyat lebih tepat menerimanya. “Berikan lah pada rakyat,” pintanya.
Terkait keberatan menerima danais seperti ditunjukkan PA IX Anglingkusumo dan adiknya Widjojokusumo, Roy menyatakan tidak masalah. Alasannya, sikap itu merupakan hak individu atau pribadi.
Soal masalah internal Pakualaman, Roy menganggap sudah tidak ada persoalan. Pernyataan Roy itu ingin menepis adanya dua faksi di Pakualaman pascawafatnya PA VIII pada 11 September 1998. Proses suksesi itu memunculkan lahirnya dua faksi. Yakni faksi KGPAA Paku Alam IX Ambarkusumo yang sekarang menjabat Wagub DIJ dan satu lagi KGPAA Paku Alam IX Anglingkusumo. “Semoga Pura Pakualaman masih bisa guyub. Dalam waktu dekat juga akan ada kabar baik dari Kasunanan Surakarta. Ditunggu saja di Garebeg Mulud nanti. Bakal ada hal menarik,” katanya tanpa merinci lebih lanjut.
Pura Pakualaman semasa PA VIII memiliki hubungan dekat dengan Keraton Kasunanan Surakarta. Sebab ibundanya, GRAy Retno Puwoso atau permaisuri PA VII adalah putri Susuhunan Paku Buwono X. Kemudian, satu di antara dua istri PA VIII, KRAy Retnaningrum merupakan penari bedaya Keraton Surakarta era Paku Buwono X.
Menanggapi pernyataan Roy itu, Penghageng Danarto Pura Pakualaman BRAy Atika Purnomowati Suryodilogo mengatakan, pemberian honor bagi kerabat dan abdi dalem bukan berdasarkan gelar kanjeng. Namun berdasarkan tugas-tugas yang diembannya di lingkungan Pakualaman. Dikatakan, banyak kanjeng baik rayi dalem (adik raja) maupun putra dalem (anak raja) yang menerima honor karena mereka sehari – hari melakukan ketugasan di Pura Pakualaman.
“Kanjeng – kanjeng itu (dapat honor danais) bukan karena (gelar) kanjengnya, tapi karena penugasannya, Apakah menjadi penasihat atau di bidang lain. Tapi, kalau tidak (bertugas) ya tidak (mendapat) honor,” ujar istri putra mahkota Pakualaman, KBPH Prabu Suryodilogo tersebut. Atika menegaskan, Roy memang tidak ikut mendapatkan honor danais. Alasannya, ia tidak memegang jabatan struktural di Pakualaman. Meski demikian, ia mengapresiasi usulan Roy tersebut. “Ya monggo saja,” ucapnya.
Di bagian lain, perempuan asal Ungaran Semarang ini menginformasikan tidak semua anggaran danais Rp 657 juta yang diterima terserap semua. Pihaknya mengembalikan danais sebanyak 5 persen dari seluruh anggaran yang diterima. Selanjutnya dana itu dikembalikan ke kas negara. Pengembalian dilakukan karena ada abdi dalem yang tidak dating mengambil honor. “Sudah kami kembalika Senin (6/1) lalu,” tandasnya.
Masih terkait soal penerimaan honor danais, GBPH Hadisuryo menegaskan, dirinya tidak menolaknya. Ia mengatakan, formulir pengisian honor danais termasuk pembukaan rekening di Bank BPD DIJ telah dilakukannya.
Hanya saja saat realisasi pencairan danais yang diadakan akhir Desember 2013 lalu, ia bersama keluarganya tidak berada di Jogja. Saat itu, putra HB IX dari garwa dalem KRAy Pintoko Purnomo sedang ada acara di Kuala Lumpur Malaysia. “Saya nggak menolak. Hanya belum mengambil saja, karena waktu pembagian itu sedang di luar negeri,” kata pangeran yang di masa mudanya bernama BRM Kasworo ini. (hed/kus)