*Sengketa Kepemilikan Kios Nomor 1 Jalan Mataram
MAGELANG – Kepemilikan kios nomor 1 Jalan Mataram Pasar Rejowinangun masih menjadi persoalan perdata di Pengadilan Negeri Magelang. Hingga kini, belum juga diputuskan. Seharusnya pada minggu lalu ada putusan sela. Gugatan sudah dilayangkan Herry Chandra alias Tjong Sien Hoo dan Sri Sulistyowati selaku pemilik Toko Mas Gatotkaca pada Pemkot Magelang.
Meski begitu, Slamet Santoso, selaku pemilik Toko Mas Mustika telah berani memasukkan barang ke kios yang menjadi objek sengketa, berupa etalase. “Iya, kami mendengar kabar kalau pihak-pihak tertentu memasukkan etalase ke kios nomor 1,” kata Kuasa Hukum Herry Chandra dan kakaknya, Janu Iswanto SH, kemarin.(12/1) Janu berharap pihak-pihak yang bersengketa menghargai proses yang tengah berjalan di PN Magelang. Sehingga, dikemudian hari tidak timbul persoalan lain.
“Kami sedang melakukan gugatan perdata di PN Magelang, soal dugaan perbuatan melawan hukum dalam keputusan kepemilikan kios nomor 1 Jalan Mataram. Artinya, tengah ada proses hukum terhadap kios nomor 1. Ya, sudah seharusnya, tidak ada pihak yang melakukan tindakan terhadap kios nomor 1. Bila itu terjadi, bisa masuk dalam ranah pidana, seperti penyerobotan atau lainnya,” katanya mengingatkan.
Pantauan koran ini di lapangan, beberapa pekerja pada Sabtu lalu (11/1), sejumlah pekerja tengah memasukkan etalase ke kios nomor 1 yang berada pada ujung barat Pasar Rejowinangun. Mereka merupakan suruhan pemilik Toko Mas Mustika, Slamet Santoso. Ia merupakan pihak yang menempati kios nomor 1, atas keputusan Pemkot Magelang, melalui Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Kota Magelang.
“Bos yang menyuruh saya memasukkan ini. Barusan, beliau datang ke sini, melihat sudah sampai di mana pembuatan etalasenya. Karena saya hanya disuruh membuat etelase. Bahannya tidak dari saya,” ungkap Kris, 43. Proses memasukkan etalase sendiri, ternyata sudah dimulai sejak awal Minggu lalu.
“Iya, barang ini sudah datang sejak Senin (6/1). Yang hari ini (Sabtu, Red), hanya tambahannya saja. Saya cuma tukang saja. Nanti sore (Sabtu Sore) sudah jadi semua estalasenya,” tambah Kris.
Selaku kuasa hukum Herry Chandra (Tjong Sien Hoo) danSri Sulistyowati, Janu Iswanto SH dan Sadji SH bersikeras tindakan DPP yang memutuskan Slamet Santoso sebagai pihak yang berhak atas kios nomor 1 Jalan Mataram merupakan tindakan melawan hukum (PMH). Dampak dari tindakan tersebut, penggugat kehilangan hak memiliki kios nomor 1. Berdasar bukti pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB), nomor pokok wajib pajak (NPWP), tanda daftar perusahaan (TDP), retribusi pasar, dan lainnya, menyebut Herry Chandra sebagai pemilik kios nomor 1 Jalan Mataram.
Janu juga menyoal kebijakan Pemkot Magelang yang tak menempuh melakukan mekanisme undian seperti tertuang dalam Perda Magelang Nomor 6 tahun 2011 tentang Pengelolaan Pasar Tradisional dan Penataan Pembinaan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Disebutkan, dalam Pasal 12, kalau pedagang berhak menempati kios sesuai letak awal sebelum kebakaran. Kalau penempatan ada masalah, mekanisme selanjutnya adalah undian. Janu mengemukakan, dasar hukum kepemilikan kios Slamet Santoso berbeda dengan pedagang lainnya. “Kalau yang lainnya, istilahnya pedagang Inpres. Karena bangunannya merupakan bangunan pasar setelah ada Inpres. Sedang kios yang istilahnya kios utama (KU) merupakan bangunan tambahan yang dasar hukumnya berdasarkan SK Wali Kota Bagus Panuntun,” katanya.(dem/hes)