JOGJA – Serat kabel optik potensial memicu tercemarnya air sumur milik warga. Potensi tersebut berdasar diidentifikasi yang dilakukan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja.
Instansi tersebut berpendapat serat kabel optik berpotensi mencemari air sumur karena kabel optik itu dipasang dengan cara menjebol dinding saluran air limbah (SAL). Dinding SAL yang rusak tersebut dapat membuat air limbah merembes hingga ke sumur warga.
Air limbah biasanya mengandang beragam bakteri. Salah satunya adalah escherichia coli (E-coli). Bakteri ini dikenal mampu menyebabkan timbulnya beberapa penyakit dan keracunan makanan.
Akhir pekan lalu, Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Jogja memotong serat kabel optik tidak berizin yang dipasang di saluran air limbah yang berada di Jl Pakuningratan dan Jl Gowongan. Kabel itu milik salah satu provider telepon seluler.
Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas Lingkungan BLH Kota Jogja Ika Rostika menyatakan, ada kemungkinan terjadi pencermaran air sumur warga akibat pemasangan serat kabel optik yang merusak SAL. Padahal, saluran air limbah itu memiliki kadar bakteri tinggi.
Usai melakukan koordinasi pekan lalu bersama Kimpraswil Kota Jogja, BLH Kota Jogja siap bergerak. Mereka berniat melakukan pendataan dalam rentang lima hari ke depan. Selain itu, pegawai BLH juga akan mengambil sampel air dari sumur.
“Potensi pencemaran kemungkinan besar dapat terjadi usai melakukan pendataan bersama Kimpraswil lokasi kabel optik yang dipasang di saluran air limbah. Kami akan langsung mengambil sampel dan diteliti untuk melihat kadar bakteri E-coli,” terang Ika kemarin (12/1).
Menurutnya, sejauh ini BLH belum menerima keluhan dari warga terkait tercemarnya air sumur. Dia juga menambahkan, BLH bersama pegawai Puskesmas Manterijeron sudah mengambil sampel air sumur warga yang terletak di dekat lokasi pemotongan kabel optik oleh Kimpraswil di Pakuningratan.
Air dari sumut itu, kata dia, secara kasat mata terlihat jernih. Air tersebut juga tidak berbau.
Meski demikian, BLH pasang kuda-kuda. BLH tetap bakal melakukan uji laboratorium untuk memastikan apakah terdapat bakteri Ee-coli atau tidak.
Selain itu, Ika berharap warga segera melapor jika air sumur berbau atau keruh. Terutama sumur yang berada di dekat lokasi pemasangan kabel optik yang ditanam di saluran limbah.
“Jika air warna tidak jernih atau berbau tidak sedap bisa mengadu ke BLH untuk dilakukan pengecekan air tersebut,” ujarnya.
Kimpraswil juga akan menurunkan pegawai ke lapangan untuk memastikan kadar air sumur warga yang dilintasi kabel optik yang dipasang tidak dengan memperhatikan lingkungan sekitar. Mereka akan mengumpulkan data di Mantrijeron, Gowongan, dan sejumlah lokasi lain.
Sedangkan Kepala Seksi Air Limbah Dinas Kimpraswil Kota Jogja Endro Sutopo menegaskan berkoordinasi BLH telah terus dilaksanakan. Pihaknya juga mencermati Perda Nomor 6 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Air Limbah Domestik yang dilanggar para pengusaha provider seluler.
Dia mengakui, umumnya serat kabel optik dipasang di dinding saluran air limbah. Caranya adalah menjebol dinding untuk membuat lubang sebagai tempat serat kabel optik.
“Semua dipastikan tidak memiliki izin atau liar dipasang di saluran air limbah. Kami tidak akan lagi beri toleransi. Ada temuan, langsung dipotong,” ujarnya. (hrp/amd)