JOGJA – Hujan kembali mengguyur Jogjakarta. Dalam rentang dua terakhir, hujan selalu turun dalam rentang waktu beberapa jam.
Hujan masih potensial turun setiap hari dalam hari-hari ke depan. Berdasar data yang ada dalam laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan Jogjakarta akan “akrab” dengan hujan.
Mereka memprediksi hujan ringan akan terjadi secara merata di Jogjakarta. Itu meliputi Kota Jogja, Bantul, Sleman, Kulonprogo, dan Gunungkidul.
Selain itu, suhu udara diperkirakan antara 23 sampai 31 derajat Celcius. Tingkat kelembaban diprediksi mencapai 63 sampai 95 persen.
Sedangkan kecepatan angin kira-kira 12 kilometer per jam. Arah angin diperkirakan berembus dari barat daya.
Hujan yang turun dua hari terakhir tak menimbulkan dampak banjir. Beberapa wilayah di Kota Jogja normal. Misalnya, aliran Sungai Manunggal tidak sampai meluap. Permukiman warga yang berada di sekitar aliran sungai itu juga tidak terendam air.
Kampung Klitren di Gondomanan juga tidak kebanjiran. “Tidak terlalu. Tapi kita tetap jaga-jaga,” kata Wardi Widodo, seorang warga.
Di sisi lain, hujan yang turun member berkah tersendiri bagi sejumlah anak di kawasan Malioboro. Mereka memberikan layanan ojek payung. Mereka meminjamkan payang kepada pengunjung Malioboro.
Rata-rata pengguna jasa mereka adalah pengunjung yang hendak menyeberang jalan dari sisi barat ke timur atau sebaliknya. Anak-anak pengojek payung tersebut mengaku tidak mematok tarif.
Tapi, kata beberapa anak, pengguna jasa ojek payung rata-rata memberikan uang jasa sebesar Rp 1.000 hingga Rp 2.000.
“Kita manut saja. Kebanyakan ngasih Rp 1.000. Ada juga yang Rp 5.000,” kata seorang pengojek payung.
Hujan yang turun perlu diwaspadai. Pemprov DIJ sudah melakukan antisipasi terhadap bencana banjir dan tanah longsor pada musim hujan ini. Pemprov mengeluarkan SK Gubernur DIJ No 317/Kep/2013 tentang status siaga darurat bencana banjir dan tanah longsor. Kesiagaan dimulai sejak 3 Desember lalu hingga 28 Februari.
SK tersebut memberikan keleluasaan bagi Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ untuk melakukan kesiapsiagaan dan mengakses anggaran dari APBD maupun APBN untuk penanggulangan bencana.
BPBD DIJ sudah melakukan pemetaan terhadap resiko bencana. Ada 50 ribu warga yang berpotensi menjadi korban banjir dan tanah longsor.
Kabid Kedaruratan dan Logistik Prasetyo Budi BPBD DIJ mendapatkan bantuan sarana dan prasaran dari pemerintah pusat sebanyak dua tronton. “Sekarang sedang dalam perjalanan ke Jogja,”jelasnya.
BPBD DIJ juga merilis wilayah potensi banjir dan longsor berdasar pemetaan yang dilakukan 2012. Potensi bencana tanah longsor di Prambanan (Sleman); Dlingo, Imogiri, Pleret, dan Piyungan (Bantul); Patuk, Gedangsari, Ngawen, Nglipar, Semin, dan Ponjong (Gunungkidul), serta Kokap, Pengasih, Girimulyo, Samigaluh, dan Kalibawang (Kulonprogo).
Potensi banjir terdapat di Pandak, Srandakan, Sanden, Kretek, Sewon, Jetis, dan Imogiri (Bantul); Temon, Galur, Lendah, Wates, dan Panjatan (Kulonprogo), serta Danurejan, Tegalrejo, dan Gedongtengen (Kota Jogja). (eri/amd)