MUNGKID – Banjir lahar hujan yang menenggelamkan empat truk pengangkut pasir tak membuat para penambang pasir jera. Mereka tidak berniat menghentikan aktivitasnya.Selang sehari peristiwa banjir lahar hujan pada Senin (13/1) siang, para penambang melanjutkan aksinya. Mereka kembali menambang di beberapa titik lokasi sungai yang berhulu di Merapi tersebut.Pemandangan aktivitas penambangan terbanyak di Sungai Pabelan. Setidaknya, aktivitas penambangan terpantau di beberapa titik. Mereka kebanyakan beraktivitas di aliran Sungai Pabelan, tepatnya di dekat Dusun Bangkalan, Desa Sawangan.Salah satu relawan pemantau Sungai Pabelan Rohmad Mansur menyatakan, sebenarnya para penambang sudah diperingatkan saat hujan menimpa di kawasan Merapi. Terkadang, di antara mereka nekat melanjutkan kegiatan penambangan. Untuk itu, ia memperingatkan para penambang sebaiknya menyingkir dulu setelah mendapat peringatan dini terjadinya banjir lahar dingin.”Kewaspadaan adanya ancaman banjir lahar dingin sebaiknya ditingkatkan,” katanya, kemarin.(14/1)Relawan dari Komunitas Linang Sayang ini mengaku, sering melihat aksi penambangan di beberapa titik. Setidaknya di bawah aliran Sungai Pabelan, di sekitar Dusun Bangkalan Desa Sawangan ada empat titik.”Harusnya, warga dan penambang perlu meningkatkan kewaspadaan soal bahaya banjir yang dating tiba-tiba tersebut,” imbuhnya.Dijelaskan, banjir lahar dingin yang menimpa empat truk sebenarnya bukan langsung dari Merapi. Namun, hanya akibat hujan lokal yang mengguyur kawasan lereng Merapi.Kemarin (14/1) pagi, bangkai empat truk berhasil diangkat. Evakuasi mengerahkan tiga alat berat beghu. Pengangkatan dilakukan langsung dan membawa bangkai truk ke pinggir.Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Joko Sudibyo menjelaskan, banjir lahar dingin merupakan awal peringatan pada warga dan penambang. Puncak hujan, imbuh Joko, akan berlangsung hingga akhir Februari mendatang.”Aktivitas di sungai yang berhulu di Merapi agar waspada. Harapannya, langkah antisipasi perlu disiapkan saat hujan datang,” katanya.Joko mengakui, selama ini banyak ditemui aktivitas penambangan di sungai yang berhulu di Merapi. Guna menghindari korban jiwa dan material, ia minta kewaspadaan ditingkatkan.Dikatakan, selain menenggelamkan empat truk, banjir lahar dingin juga merusakkan jembatan sesek dari pohon kelapa (glugu) di perbatasan Desa Menayu, Kecamatan Muntilan dan Desa Ngemplak, Kecamatan Mungkid. Ditaksir, kerugian akibat jembatan putus mencapai Rp 18 juta.Sementara di Dusun Tutup Ngisor, Sumber, Dukun, banjir lahar dingin mengakibatkan bencana tanah lonsor. Tebing ketinggian 10 meter dan panjang 30 meter menimpa lima petak sawah milik warga setempat. Bencana tanah longsor tersebut nyaris menghanyutkan kandang sapi di belakang rumah Mustari, 55. Akibat kejadian itu, kerugian diperkirakan sekitar Rp 10 juta.(ady/hes)