PURWOREJO – Lapak milik pedagang di Jalan A. Yani mulai dibongkar oleh pemiliknya. Ini menyusul kesanggupan mereka mengosongkan jalan protokol yang ditempati lebih dari enam bulan pascakebakaran Pasar Baledono jelang Lebaran 2013.Pantauan koran ini, sebagian pedagang melakukan pembongkaran lapak mulai pagi hari. Tanpa bantuan pihak lain, termasuk Satpol PP, polisi atau TNI yang sebelumnya siap membantu pedagang membersihkan lapak dari Jalan A Yani.Akhirnya, pedagang membongkar lapaknya sendiri. Ini tak lepas dari sikap Paguyuban Pedagang Pasar (Pappas) Baledono yang tidak menghendaki keterlibatan pihak luar. Mereka memilih bergotong-royong memindahkan lapak dan barang dagangan ke titik pasar darurat yang ditetapkan pemkab.Salah satu pedagang Zarkoni, 45 mengungkapkan, dari imbauan dan koordinasi dari pengurus Pappas yang diterimanya melalui pesan singkat, pembersihan lapak harus selesai hari ini (kemarin, Red). “Saya berjualan pakaian, kebetulan mendapat kios di belakang kompleks plaza. Barang dagangan sudah diangkut kemarin. Mulai pagi tadi, kami bongkar lapak. Sore nanti harus bersih,” ungkap Zarkoni, kemarin.(14/1)Zarkoni melanjutkan, lapak yang dibuatnya senilai Rp 400 ribu. Rencananya, digunakan untuk menyempurnakan lapak yang disediakan pemkab. Ia suka-rela membongkar lapak karena ada kesepakatan bersama dan kepastian Pasar Baledono akan segera dibangun. “Selama jualan di Jalan A. Yani, omzet penjualan turun drastis hingga 50 persen dibanding saat berjualan di Pasar Baledono. Repotnya, saat hujan turun, ia harus berjibaku menyelamatkan pakaian agar tidak basah. Otomatis tidak bisa berjualan dengan nyaman,” katanya.Pedagang lain Slamet, 50 mengungkapkan hal senada. Ia tidak menghiraukan sejumlah pedagang didekatnya yang bertahan berjualan. “Dari pada repot tergesa-gesa, mendingan saya cicil dari sekarang. Mumpung tidak hujan juga,” imbuhnya.Ginah, 60, warga Baledono yang berjualan dawet lain lagi. Ia sudah mulai menempati kios di Jalan Pahlawan yang disediakan pemkab, mulai Senin (13/1). Saat Pasar Baledono masih ada, ia berjualan di lantai atas sayap selatan. Setelah terbakar, ia mencari lokasi di Jalan Pramuka. “Kebetulan untuk pedagang yang ada di atas tidak kebagian tempat di Jalan A Yani. Saya mencari lokasi sendiri dan dapat di Jalan Pramuka. Toh di sini (Jalan Pramuka, Red) tidak nyaman, karena padat dan sering banjir saat hujan. Di Jalan Pahlawan nyaman. Dari kemari sudah didatangi pembeli,” ungkap Ginah yang berjualan dawet selama 15 tahun.Sebelumnya, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar (Pappas) Baledono H Sumedi menyatakan, para pedagang siap meninggalkan Jalan A Yani dan pindah ke pasar darurat. Pedagang akan mengindahkan imbauan pemkab untuk mengosongkan Jalan A. Yani per 15 Januari 2014 (hari ini,red). “Semua pedagang di Jalan A Yani memulai pindah ke tempat lapak darurat yang dibuatkan pemkab. Hari ini lapak dibongkar dengan kerja bakti oleh masing-masing kelompok regu lapak,” katanya.Sebagai pertanggungjawaban sikap, dalam boyongan tak mau dibantu pihak luar. “Satpol PP dan DPU (Dinas Pekerjaan Umum) menawarkan membantu, tetapi kami tolak. Semua akan dilakukan sendiri dengan gotong-royong,” katanya.(tom/hes)