JOGJA-Keluhan masyarakat terhadap penyelenggaraan Sekaten setiap tahun muncul, dan seolah-olah selalu terulang. Salah satu keluhan yang kerap mengemuka menyangkut pungutan atau tarif parkir Sekaten.
Itu pula yang terjadi saat puncak Perayaan Garebeg Sekaten kemarin (14/1). Untuk sepeda motor pengunjung ditarik Rp 5.000. Tak pelak beberapa pengunjung mengeluhkan mahalnya tarif parker Sekaten tersebut. Meski menganggap tak wajar, mereka tidak bisa menolaknya karena membutuhkan tempat untuk memarkir motornya.
“Saya sempat kaget. Tapi bagaimana lagi karena semua tempat penuh,” ungkap Anam, salah seorang pengunjung.
Anam bercerita tak bisa menolak dipungut tarif parkir yang tak wajar. Sebab, ia sudah telanjur memasukkan motornya ke area parkir. Mau tak mau, ia harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar tarif parkir tersebut.
“Di luar (alun-alun utara) sebenarnya lebih murah. Tapi, mau keluarnya sudah susah,” keluhnya.
Menyikapi itu, Anggota Komisi B DPRD Kota Jogja Suharyanto mengakui, manajemen penyelenggaraan Sekaten selalu menjadi persoalan.
“Setiap tahun selalu menimbulkan masalah yang sama,” ujarnya.
Ia menyebutkan beberapa masalah yang mewarnai Sekaten. Di antaranya seputar tata ruang stan yang tak memperlihatkan kearifan lokal, tarif parkir, hingga kebisingan saat perayaan garebeg.
“Tahun ini, Komisi B memang belum meninjau ke sana. Tapi, informasi yang masuk, memang masih terjadi masalah yang sama,” kritiknya.
Sekretaris Komisi B DPRD Kota Jogja Bagus Sumbarja juga mengkritisi kinerja panitia Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) yang terkesa tidak punya konsep.
Menurut dia, seharusnya, panitia bisa belajar dari evaluasi tahun sebelumnya. “Bukan mengulang masalah atau kesalahan yang sama,” ucapnya.
Bagus mengaku telah mendapatkan masukan terkait pengisian stan. Beberapa pengisi stan ternyata telah memesan sejak lama. Khususnya dari beberapa perusahaan atau produk skala nasional.
Akibatnya, stan-stan untuk produk lokal, atau usaha mikro kecil menengah (UMKM) menjadi tak maksimal. “Sesuai konsepnya sebagai ekonomi kerakyatan seharusnya mengedepankan UMKM. Jangan malah mendidik masyarakat untuk konsumtif,” tambahnya.
Menanggapi itu, Ketua Forum Komunikasi Alun-Alun Utara Muhammad Fuad menuturkan, upaya penertiban sebenarnya sudah dilakukan. Baik itu menyangkut penertiban tarif parkir sampai suara bising dari arena hiburan di Sekaten.
“Kami sudah peringatkan secara tertulis untuk pelanggaran pungutan tarif parkir yang tidak wajar,” terangnya.
Meski telah memberikan peringatan, lanjut Fuad, pihaknya tak bisa mengontrol seluruh juru parkir di area Sekaten. Apalagi itu sudah diserahkan kepada 19 kelompok yang selama ini mengais rezeki dari perayaan Sekaten. “Kalau ada pelanggaran, kami akan peringatkan,” katanya tanpa menjelaskan sanksi kepada kelompok pengelola parkir yang menguti tarif melebihi ketentuan.
Fuad menambahkan, pengelolaan parkir Sekaten tahun ini memang hampir sama dengan tahun lalu. Pengelola parkir menyewa stan dari panitia dengan luas lahan 400 meter persegi. Totalnya ada 19 pengelola. Mereka membayar ke panitia PMPS sebesar Rp 40 juta.
“Itu berlaku sejak pembukaan sampai penutupan Sekaten,”
katanya.
Puncak perayaan Sekaten kemarin ditandai dengan keluarnya tujuh buah gunungan dari Keraton Jogja. Gunungan tersebut dibawa dari depan Bangsal Ponconiti menuju halaman Masjid Gedhe Kauman, Pura Pakualaman, kompleks Kepatihan.
Penghageng Tepas Dwarapura Keraton Jogja KRT Jatiningrat menjelaskan, dari tujuh gunungan itu, lima di antaranya dibawa ke Masjid Gedhe Kauman. Lima gunungan tersebut adalah Gunungan Kakung, Putri, Pepak, Dharat, dan Gunungan Pawuhan.Sedangkan dua Gunungan Kakung lainnya dibawa ke Pura Pakualaman dan Kepatihan. Sejumlah bergada pasukan keratin tampak mengawal iring-iringan gunungan. Bergada itu meliputi Wirabraja, Patangpuluh, Daeng, Bugis, Surokarso, Nyutro, Prawirotama, dan Bergada Jogokaryo. Delapan bergada itu dipimpin Manggalayudha Keraton Jogja GBPH Yudhaningrat.
Selama acara belasan pengunjung yang hendak nglalap berkah gunungan pingsan kekurangan oksigen akibat berdesakan. Ini karena mereka sudah tiba jauh sebelum keluarnya gunungan. (eri/kus)