MUNGKID– Retaknya tanah di Desa Sidosari Kecamatan Salaman mendapat perhatian pemerintah Provinsi Jateng. Melalui Balai Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah Solo Dinas ESDM Provinsi Jateng, empat petugas meninjau langsung lokasi retaknya tanah.Ke-4 orang tersebut adalah Staf Basda Balai ESDM Wilayah Solo Dinas ESDM Provinsi Jateng Sokhib, Kurnia Agustina, Taufan Riza P, dan Haryadi. Ditemani Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupten Magelang Joko Sudibyo, dan beberapa perangkat Desa Sidosari, mereka melihat langsung lokasi guna mengetahui penyebab keretakan tanah. Beberapa peralatan seperti kompas dan GPS digunakan untuk menganalisa lebih detail pemicu keretakan tanah di wilayah perbatasan Kecamatan Kajoran tersebut.Pimpinan Rombongan Balai ESDM Haryadi menyatakan, kedatanganya ke Sidosari, setelah sebelumnya diberi laporan Pemkab Magelang adanya keretakan tanah yang mengancam 198 rumah. Untuk itu, agar bisa diatasi dengan cepat, ia bersama rombongan mengecek secara langsung.Mereka mendeteksi pemicu utama keretakan tanah. Caranya, dengan melihat lokasi yang sudah mengalami retak. Pancarian diprioritaskan guna mencari keretakan tanah yang berada di ujung paling atas.”Jika sudah ketemu keretakan yang paling ujung, warga bisa menutupnya agar tak ada air yang masuk,” usulnya, kemarin.(16/1)Dia juga meminta, fenomena keretakan tanah ini disikapi dengan kewaspadaan. Apabila hujan yang mengguyur wilayah tersebut selama 2 jam lebih, warga diminta waspada bila keretakan tanah semakin melebar. “Hasil pantauan di lapangan ini, kami laporkan ke gubernur Jateng. Nantinya, gubernur memberikan rekomendasi ke pemerintahdaerah untuk menindaklanjuti,” paparnya.Sementara itu, Joko Sudibyo menambahkan, hasil rekomendasi dari Balai ESDM nanti menjadi acuan Pemkab Magelang bertindak. Setelah diketahui pasti pemicu keretakan tanah, langkah menanggulangi keretakan tanah bisa dilakukan dengan tepat.Menurut Joko, pemicu keretakan biasanya dibagi menjadi tiga. Pertama, pemicu keretakan tanah bisa disebabkan adanya aliran air liar yang masuk ke tanah. Kedua, terkait beban yang berada di atas keretakan tanah. Banyaknya beban tanah, keretakan tanah bisa menjadi lebih cepat.”yang ketiga, terkait getaran yang ada di atas tanah,” imbuhnya.Seperti diketahui, tanah di dua dusun di Desa Sidosari, Kecamatan Salaman mengalami retak di tiga bagian. Keretakan menjalar dari utara ke selatan dengan lebar keretakan 20 sentimeter hingga satu meter. Pada keretakan tanah jalur satu diketahui sepanjang 200 meter. Sementara keretakan jalur dua sepanjang 1.500 meter, dan jalur tiga sepanjang 300 meter.Ketiga jalur keretakan menjalar di Dusun Krajan Lor 1 dan Dusun Krajan Lor 2.Dari 200 rumah di dua dusun tersebut, yang terancam ada 198 rumah. Sementara hanya dua yang tak terancam retakan tanah. Secara keseluruhann, retakan tanah ini mengancam kehidupan 800 orang. Selain menimpa rumah, keretakan tanah juga menimpa perkebunan milik warga.Keretakan ini juga mengakibatkan penyempitan jalur Sungai Sinan. Kini, Sungai Sinan hanya memiliki lebar tiga meter dari sebelumnya enam meter. (ady/hes)