Mbah Mo, Penjaga Eksistensi Kendang di Wates
Di tengah gempuran modernisasi, eksistensi alat musik tradisional dipertanyakan. Namun hal itu tidak berlaku bagi Mbah Mo, ahli reparasi alat musik kendang. Keahlian yang didapat dari orang tuanya itu, kini ia pertahankan sebagai misi melestarikan budaya dan kesenian Indonesia.
ALI MUFIDZ, WATES
SEHARI-HARI, mantan pegawai RRI ini disibukkan memperbaiki kendang. Di rumah bergaya jawa di Pedukuhan Grawulan, Desa Giripeni, Wates, Kulonprogo, meski di belakangnya terdapat bangunan permanen, tak menghilangkan kesan tradisional rumah pemilik bernama lengkap Parmo itu. Di dalam rumah berbentuk joglo itu, terdapat berbagai macam alat musik tradisional gamelan. Yang paling spesifik memang kendang, yang biasa ia perbaiki dari pelanggannya.”Ada bonang, gambang, gong, ada juga kendang. Kalau kendang memang saya biasa memperbaiki. Orang yang datang dari beberapa daerah, rata-rata dari kelompk jatilan atau sanggar musik tradisional,” kata Mbah Mo kepada Radar Jogja baru-baru ini.Mbah Mo tak merasa kewalahan dengan aktivitasnya setelah pensiun. Terang saja, sejak 1976, ia kerap melihat orang tuanya yang juga ahli membuat sekaligus memperbaiki alat musik tradisional. Berbekal dari pengalaman itu, Mbah Mo kini melanjutkan skill orang tuanya. Kini di rumahnya, terdapat beberapa alat musik yang dibuat oleh orang tuanya semasa masih hidup.Kegiatannya saat ini diakui sebagai salah satu upaya menjaga eksistensi seni dan budaya. Apalagi banyak orang yang datang ke rumah Mbah Mo untuk memperbaiki kendang. Mulai dari wilayah di DIJ, Purworejo, bahkan sampai keluar Jawa. Mbah Mo merasa bangga, keahliannya selama ini bisa bermanfaat bagi orang lain, apalagi berkaitan dengan musik tradisional. Sewaktu menjadi pegawai di RRI ia membidangi kesenian.”Ada juga pesanan kendang dari Riau. Itu alatnya belum jadi,” kata Mbah Mo sambil memahat bagian tengah kayu untuk dijadikan kendang.Untuk pesanan pembuatan kendang, Mbah Mo mengakui masih sepi. Dalam sebulan, paling banyak ada tiga pemesan. Sedangkan untuk perbaikan kendang, paling ramai menjelang bulan Agustus. Mungkin beberapa sanggar musik dan kelompok jatilan mempersiapkan pentas Agustusan, sehingga alatnya pun harus diperbaiki.Sedangkan tarif untuk perbaikan kendang, tergantung dari tingkat kerusakannya, yaitu berkisar antara Rp 180 ribu sampai Rp 450 ribu. Sementara untuk biaya pembuatan kendang berkisar Rp 450 ribu sampai Rp 2 juta.”Semakin bagus bahan bakunya, harganya juga mengikuti. Tapi untuk bahan baku yang bagus, pakai kayu nangka, sementara kulit kendangnya pakai kulit kerbau,” jelas bapak dua anak itu.Saat ini Mbah Mo mengaku bahwa perajin kendang di Kulonprogo yang masih bertahan tinggal sedikit. Padahal sekitar 1970-an sampai 2000-an, di Kulonprogo masih banyak perajin kendang. Seperti di Pengasih, Wates, dan Lendah. Terang saja kini mulai punah, karena tidak ada generasi penerus untuk melestarikan kerajinan kendang.”Harapan saya ada yang meneruskan, paling tidak anak saya bisa mengembangkan kerajinan ini menjadi usaha yang lebih maksimal,” kata Mbah Mo.Tugiyo, 52, salah seorang pelanggan asal Pedukuhan Sengir, Desa Kalirejo, Kecamatan Kokap sudah lama memperbaiki kendang di rumah Mbah Mo. Tugiyo mempercayakan perbaikan kendang karena kualitas reparasi Mbah Mo terjamin suaranya. Selain itu, pemain kendang dari kelompok jatilan Krido Mudho itu juga tidak meragukan keahlian Mbah Mo dalam memperbaiki kendang.”Stem (setelan) kendang kalau dipegang sama Mbah Mo cocok. Nadanya sesuai yang diharapkan. Kendangnya mau saya pakai untuk pentas jatilan,” kata Tugiyo. (*/iwa)