JOGJA-Hujan yang turun selama beberapa hari terakhir menyebabkan sejumlah rumah warga mengalami kerusakan. Kejadian itu dialami beberapa warga yang tinggal di RT 08, RW 02, Kelurahan Pakuncen, Wirobrajan, Kota Jogja.
Sebuah rumah yang dihuni sembilan kepala keluarga (KK), atapnya diketahui roboh. Peristiwa tersebut terjad sekitar pukul 08.30 kemarin (16/1). Beruntung, bencana itu tak menimbulkan korban jiwa. Sebanyak 30 jiwa yang menghuni rumah itu bisa diselamatkan. Mereka kini tinggal sementara di tenda yang telah disiapkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja.
“Saat kejadian, ada yang di dalam rumah. Tapi keluarga bisa menyelematkan diri,” kata Kepala BPBD Kota Jogja Agus Winarto kemarin,
Agus mengungkapkan, sembilan KK yang harus mengungsi di tenda darurat. Mereka adalah Sutopo, Susantoro, Sodo Slamet Raharjo, Agus Subekti, Sri Sumaryati, Slamet Pingan, Aris Dananto, Sri Sudaryati, dan Dwi Susanto.
“Tadi (kemarin) bersama dengan relawan dan tim gabungan sudah melakukan pembersihan. Besok (hari ini) kami akan bangunkan atap yang rusak itu,” jelas Agus.
Untuk membangun kembali atap yang roboh itu, Pemkot Jogja telah memberikan bantuan. Untuk sementara, pemkot memberikan seng dan bambu. “Tidak genteng karena lebih cepat dengan seng,” lanjutnya.
Salah seorang korban, Aris Dananto menjelaskan, kayu untuk atap rumah itu memang sudah tua. Akibatnya, saat diguyur hujan tak berhenti, atap rumah tak kuat menahan. Al hasil, saat hujan kemarin pagi semakin deras, atap tersebut roboh.
Hujan deras juga merusak infrastruktur Jalan Cendana, Suryotomo, Veteran, dan Jalan Parangtritis. Kondisinya, jalan tersebut berlubang dan membahayakan pengendara sepeda motor.
“Ini karena pemasangan kabel optik dan saluran limbah yang penutupannya tidak sempurna,” kata Kepala Bina Marga Dinas Kimpraswil Kota Jogja Wijayanto.
Perbaikan jalan ini, sudah dianggarkan di dana cadangan peraturan wali kota (perwal) APBD 2014, sebagai pengganti sementara Perda APBD 2014. Besarnya mencapai Rp 5,6 miliar untuk menambal lubang-lubang tersebut.
Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Tony Agus Wijaya menginformasikan, sampai dengan Februari 2014, hujan di Kota Jogja masih tinggi. Ini mengingat saat ini memasuki puncak musim penghujan.
“Curah hujan tertinggi memang pada akhir Januari hingga awal Februari mencapai lebih dari 100 milimeter dalam sehari,” imbuhnya.
Selain curah hujan tinggi, kata dia, durasi hujan juga lama sehingga dalam sehari bisa saja terjadi hujan secara terus menerus. Ini berdampak pada kondisi tanah di bantaran sungai, dan lereng yang rawan longsor.
“Hingga detik ini belum ada ancaman gangguan cuaca jangka pendek, namun kami akan melakukan pemantauan terus menerus karena ada bibit badai tropis di dekat Australia,” katanya.
Potenso badai ini bakal berpengaruh pada kondisi cuaca di Kota Jogja selama empat atau lima hari ke depan. Salah satunya adalah bertambahnya curah hujan akibat pengaruh badai tersebut. “Tapi, kami belum melihat pergerakan badai itu ke arah Indonesia khususnya Jogja,” tambahnya. (eri)