MUNGKID –Dunia pendidikan di Kabupaten Magelang tidak pernah beranjak lebih baik. Masih ada saja ditemui kondisi yang mengenaskan. Ini mengindikasikan, Pemda Magelang tidak memiliki konsern dan pendidikan terkesan dipinggirkan.Seperti yang terlihat di SDN 2 Krasak, Kecamatan Salaman. Para siswa kelas IV SDN 2 Krasak melangsungkan kegiatan belajar-mengajar di tempat parkir.Siswa kelas empat yang berjumlah 10 anak tersebut harus belajar di tempat parkir berukuran 2 x 6 meter. Ruangannya terbuka, tanpa adanya pagar. Padahal, lokasi sekolah tersebut ada di dekat Gunung Tawing, di mana tiupan anginnya cukup kencang.”Pemindahan ruang kelas di tempat parkir, terpaksa dilakukan. Karena ruangan belajar mengajar tidak mencukupi,” kata Kepala SDN 2 Krasak Nuryanto SPd, kemarin.(16/1)Menurut Nuryanto, siswa kelas IV belajar di tempar parkir sepeda motor para guru sejak semester genap, yaitu awal Januari lalu. Selain kekurangan ruang kelas, pertimbangan lain pemindahan kegiatan belajar-mengajar (KBM) di tempat parkir, pertimbangannya agar tidak mengganggu KBM murid kelas VI. Karena, sebelumnya setiap ruang kelas dimanfaatkan untuk dua kelas.”Di antaranya, kelas I satu ruang dengan kelas V, kelas II dengan kelas III, dan kelas IV dengan kelas VI. Setiap ruang, hanya dibatasi papan tulis atau lemari. Dengan begitu, saat guru mengajar di satu kelas, terdengar di kelas sebelahnya,” jelasnya. Sementara murid kelas enam beberapa waktu ke depan, akan mendekati pelaksanaan ujian nasional (UN). Agar KBM kelas VI tak terganggu, mulai awal semester ini, KBM kelas IV dipisah dengan kelas VI.”Kelas IV kami pindahkan ke tempat parkir agar tidak mengganggu kelas VI,” jelas Nuryanto.Dijelaskan, pemindahan ruang kelas di tempat parkir bukan kali pertama. Tahun lalu, saat kelas VI akan ujian, KBM juga dilangsungkan di tempat parkir. Hanya waktu itu kelas II yang melangsungkan KBM di tempat parkir. “Jumlah murid di SD kami memang tidak terlalu banyak. Kelas I dan kelas II masing-masing hanya 19 anak. Kelas III sebanyak 15 anak, kelas IV, V, dan VI masing-masing 10 anak,” ungkapnya.Wali Kelas IV, Achmadi menambahkan, dengan minimnya ruang kelas ini sebenarnya juga sering dikeluhkan para wali murid. Mereka pernah mengeluh, karena kondisi KBM siswa tidak nyaman.”Satu ruangan dibagi jadi dua kelas, siswa pun mendengarkan dua suara guru saat menerangkan materi pelajaran,” katanya.Minimnya ruangan kelas yang bisa difungsikan itu bermula saat SDN 2 Krasak mendapat bantuan dana alokasi khusus (DAK) bidang Pendidikan tahun 2012. Nilainya sekitar Rp 220,5 juta. Dana sebesar itu dialokasikan merehab berat ruang kelas IV, V, dan VI. Pelaksanaan rehab dimulai pada Oktober 2012.Untuk keperluan pembangunan sejak 15 Oktober 2012, setiap ruang dimanfaatkan untuk dua kelas. Namun, pelaksana proyek ternyata tak mampu menyelesaikan pembangunan tepat waktu sesuai kontrak. Sehingga, pembangunan terpaksa dihentikan hingga sekarang.(ady/hes)