Topas Pamungkas sedang galau. Pemain sepak bola yang pernah membela PSIM Jogja dan PSS Sleman itu bingung lantaran sedang tidak mendapat kontrak dari klub. Padahal, dia mesti menjamin kehidupan keluarga barunya.
K.C. Dhaneswara
Belum bergabung dengan klub mana pun. Itu dialami Topas Pamungkas. Setelah tidak dipertahankan klub yang dibelanya di paro kedua musim kompetisi 2013, PSS Sleman, dia berstatus pemain bebas. Dia boleh bergabung dengan klub mana saja tanpa perlu adanya uang transfer.
Topas punya satu tim yang menjadi tujuan. Tim itu adalah PSIM Jogja. Pemain yang memulai karier dari futsal ini sangat berhasrat membela tim berjuluk Laskar Mataram itu.
Kepada Radar Jogja (17/1), pemain asli Jogja ini mengaku resah karena tidak kunjung mendapatkan panggilan dari manajemen PSIM. Apalagi, saat ini dia sedang tanpa pemasukan.
Dia berharap dapat segera bekerja kembali. Dia ingin secepatnya kembali memperoleh pemasukan dari keahliannya bermain sepak bola.
Dia mengaku menganggung menjadi sangat berat. Sebab, dia melepas masa lajang dengan menikahi Asa Aturida Desember lalu.
“Jujur saja, sekarang memang sangat berat. Sebab, belum ada pemasukan. Apalagi kan saya juga baru menikah tentu sangat butuh income,” imbuhnya.
Topas agak kaget setelah mendengar ada kemungkinan PT Liga Indonesia baru menggulirkan kompetisi divisi utama pada April. Menurutnya, hal itu terlalu lama.
Apalagi selama menunggu, kata Topas, dia dan pemain profesional lain tak bisa bermain di ajang kompetisi antarkampung (tarkam). Ini mengingat saat ini sedang sepi turnamen di kampung-kampung.
“Mau tarkaman juga sedang tidak bisa. Soalnya lagi sepi juga. Jadi, sulit juga kalau kompetisi baru mulai April,” imbuhnya.
Karena hal itu, Topas mengaku hanya mengandalkan tabungan untuk hidup sehari-hari. Dia pasrah menunggu kejelasan berlangsungnya kompetisi divisi utama tahun ini.
Meski sedang dalam kondisi sulit, Topas tetap profesional menjalani profesi sebagai pemain sepak bola. Demi menjaga kondisi fisik, dia tetap melakukan latihan mandiri.
Selain berlatih sepak bola rutin, Topas disiplin joging. “Harapannya tentu level permainan tetap terjaga saat kompetisi mulai bergulir,” ungkapnya.
Topas menyadari kariernya di sepak bola tidak bakal abadi. Dia memastikan ada saatnya nanti meninggalkan dunia yang amat disenanginya ini.
Dia pun menyatakan memiliki cita-cita untuk berwirausaha. “Kalau di usia tua nanti saya juga punya hasrat jadi pelatih. Namun harapan untuk itu sejatinya tak terlalu besar. Hal yang paling saya inginkan ya berwirausaha,” ujarnya. (*/din)