Nilai kerugian material para korban bencana banjir patut dihitung juga dari matinya sebuah usaha. Jika begitu, warga di Kecamatan Butuh dan Grabag yang paling merasakan. Pascabanjir, banyak warga yang berprofesi sebagai perajin gula merah mandeg produksi dan mati suri. Mereka kehilangan harapan. Untuk memulai usaha, terpaksa mereka meminjam modal dan dililit hutang. Seperti apa kondisinya?
HENDRI UTOMO, Purworejo
SUDAH Jatuh ketiban tangga, pepatah itu nampaknya tepat menggambarkan nasib ratusan perajin gula merah di Kecamatan Butuh dan Grabag yang menjadi korban banjir. Ironisnya, para perajin gula merah banyak yang terlilit hutang guna memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.Benar, banjir di penghujung 2013 tidak hanya merendam rumah dan harta benda miliknya. Tempat produksi gula merah milik waga juga hancur diterjang banjir. Padahal, membuat gula merah merupakan mata pencaharian utama dan terpaksa terhenti produksinya.Sampai kini, perajin gula merah di tiga desa, yakni Desa Trimulyo, Rowodadi, dan Bendungan di Kecamatan Grabag mengaku belum bisa memulai produksi kembali. Mereka kehabisan modal usaha. Tidak hanya itu, sejumlah peralatan produksi rusak dan hilang terseret banjir.Salah satu perajin gula merah Kirun, 37, warga Desa Trimulyo RT 02/ RW 02, Kecamatan Grabag mengatakan, di Desa Trimulyo ada 16 produsen gula merah. Sementara di Desa Rowodadi ada 20 perajin dan di Desa Bendungan terdapat tiga perajin gula merah.Semua perajin tersebut sampai kini masih kesulitan memulai usaha lantaran kesulitan modal. “Untuk makan saja susah. Apalagi untuk modal usaha,” keluhnya, baru-baru ini.Tiga desa di Kecamatan Grabag tersebut merupakan wilayah terparah yang terdampak banjir, pada 20 Desember 2013. Hampir 10 hari, warga desa mengungsi lantaran ketinggian air mencapai 1,5 – 2,5 meter. “Bahkan, air baru surut seminggu terakhir. Air bah hanya tersisa di lahan sawah yang belum bisa ditanam padi,” paparnya.Kirun menambahkan, untuk memulai usaha membuat gula merah, dibutuhkan modal produksi yang banyak, minimal Rp 5 juta. Modal itu digunakan menyewa pohon kelapa, membeli kayu bakar, memperbaiki tungku yang rusak, serta pengadaan peralatan yang hilang dan rusak. “Sementara warga sudah kehabisan uang untuk usaha,” katanya.Kendati begitu, mereka mengaku tak habis semangat. Meski jadi korban banjir, mereka berusaha memulai pembuat gula merah kembali, kendati butuh perjuangan, khususnya mendapatkan modal.Sebagian perajin ada yang nekat meminjam uang ke sejumlah pihak guna bertahan hidup dan memulai usaha. Tak pelak, banyak perajin yang terlilit hutang besar. “Saya terpaksa hutang kebutuhan pokok di warung tetangga untuk bertahan hidup. Sedangkan untuk memulai membuat gula, saya masih berpikir bagaimana caranya,” katanya.Perajin lain Sohri, 40, menuturkan, jika kondisi cuaca normal, produksi gula merah bisa dimulai setengah bulan atau sebulan ke depan. Itupun hasilnya dipastikan kurang maksimal.Sebagian perajin di Kecamatan Butuh mulai mengambil air nira kelapa dan sebagian lainnya memperbaiki dapur yang rusak. “Baru sedikit perajin yang mulai mengambil nira. Mereka mengalami kendala uang untuk membeli obat dan kayu bakar atau sekam padi,” ujarnya.(*/hes)-fam� “��`�ans-serif”‘>Ia berharap, setiap tahun koleksi museum yang dikelola Pemkot Magelang ditambah. Ia tidak memungkiri, keberadaan museum tidak banyak diketahui masyarakat Kota Magelang. “Perlu dilakukan promosi agar masyarakat mengetahui keberaadan museum ini dan sejarah yang menyertainya,” katanya.(dem/hes)