Buntut Keterangan di Pengadilan Tipikor
JOGJA – Kesaksian Direktur Utama Bank Bantul Aristini Sriyatun yang mengaku mengetahui uang yang digunakan Ketua Kelompok Usaha Bersama Petani Tembakau Bumi Tirta Sudjono untuk mengangsur pinjaman berasal dari hibah tembakau virginia mendapatkan antensi pegiat antikorupsi.
Masyarakat Transparansi Bantul (MTB) meminta Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIJ mendalami keterangan Aristini saat menjadi saksi untuk terdakwa mantan Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul Ir Edy Suharyanta di Pengadilan Tipikor Jogja Senin (13/1).
“Aristini dapat dijerat Pasal 55 KUHP,” kata Ketua MTB Irwan Suryono kemarin (19/1).
Pasal 55 ayat (1) menyebutkan, mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan dan turut serta melakukan tindak pidana dipidana sebagai pelaku tindak pidana. Sebagai pejabat perbankan milik daerah, seharusnya Aristini menolak uang angsuran yang disetorkan Sudjono karena berasal dari hibah. “Seharusnya Aristini menolak dan memberikan pengarahan bahwa uang hibah tak boleh digunakan di luar peruntukan karena melanggar perundang-undangan,” terang Irwan.
Selain mengetahui asal usul uang angsuran yang berasal dari dana hibah, Aristini dinilai melanggar peraturan BI mengenai pemberian pinjaman yang melebihi nilai agunan. Sebab, saat Sudjono mengajukan pinjaman di Bank Bantul Rp 675 juta nilai agunan yang digunakan Sudjono hanya senilai Rp 200 juta. “Sebagai salah satu direktur Bank Bantul, seharusnya Aristini menolak pengajuan pinjaman tersebut,” tandas Irwan.
Dalam persidangan dengan terdakwa Edy Suharyanta beberapa waktu lalu baik majelis hakim maupun jaksa tak ada yang menanyakan perihal persetujuan pemberian pinjaman senilai Rp 675 juta. Padahal, jawaban atas pertanyaan tersebut diharapkan dapat membuka tabir pemberian pinjaman diatas nilai agunan. “Ada dugaan, kasus semacam ini sering terjadi di Bank Bantul. Uang pinjaman diatas nilai agunan umumnya diberikan kepada kalangan pejabat Pemkab Bantul,” beber Irwan.
MTB meminta majelis hakim memanggil Bank Indonesia. Kesaksian BI penting untuk mengetahui kegiatan Bank Bantul yang menjalankan kegiatan menerima uang titipan dari warga. “Siapa tahu banyak pejabat Bantul yang menitipkan uangnya di berangkas Bank Bantul. Kalau itu benar, maka tentu BI perlu mengambil tindakan,” pinta Irwan.
Aspidsus Kejati DIJ Pindo Kartikani SH mengatakan, belum memikirkan mengenai pengembangan kasus hibah tembakau virginia. Sebab, pihaknya tengah fokus pada terdakwa Edy Suharyanta dan kasus lain seperi hibah Persiba.
“Kami fokus dulu pada terdakwa Edy,” kata Pindo. (mar/kus)