Tugas yang Diberikan di Sekolah Terlalu Membebani
JOGJA – Homeschooling makin diminati masyarakat Jogjakarta. Salah satu alasan memilih homeschooling untuk menghindari kekerasan (bullying) yang kerap terjadi di sekolah. Direktur Homeschooling Primagama (HSPG) Kusnanto mengungkapkan sebanyak 25 persen dari 165 siswa memilih homeschooling disebabkan bullying yang pernah dialami di sekolah. Bullying tersebut dilakukan oleh teman sekelas maupun guru. “Bullying bukan bersifat fisik saja, kata-kata kasar dan ejekan juga bagian dari kekerasan yang menimpa murid. Ini yang menyebabkan mereka menjadi trauma dan memilih belajar melalui homeschooling,” kata Kusnanto kepada Radar Jogja. Kusnanto mengungkapkan sebagain siswa homeschooling merasa tugas-tugas yang diberikan di sekolah terlalu membebani. Bahkan, tak jarang bagi mereka yang tidak mengerjakan tugas mendapatkan hukuman. Setelah mengeyam pendidikan di homeschooling, kata Kusnanto, para korban bullying merasa lebih nyaman. Ancaman yang dialami selama mengeyam pendidikan di sekolah bisa dilupakan. “Kenyataannya saat ini siswa dibebankan berbagai pekerjaan sekolah. Sedangkan waktu di rumah sangat sedikit,” katanya.
Untuk penanganan awal menghilangkan trauma, kata Kusnanto, biasanya homeschooling menyediakan psikolog untuk mengetahui latar belakang masalah siswa. Cara ini memudahkan guru dalam penyampaian materi ajar. Di sisi lain, homeschooling juga memberikan motivasi serta jaminan tidak adanya kekerasan fisik maupun verbal. Seperti di HSPG, motivasi juga ada yang berbentuk reward, baik bagi murid maupun tenaga pendidik. “Tugas pendidik memang sangat berat. Maka betapa nakalnya anak, guru harus siap menghadapi dengan berbagai cara dan metode. Bahkan tidak menutup kemungkinan untuk berdebat dan bertukar argumen,” kata Kusnanto.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIJ, Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, keberadaan homeschooling dapat menjadi alternatif masyarakat yang tidak ingin belajar di sekolah. Homeschooling dapat membantu pemerintah mencerdaskan masyarakat.
“Semua jalur pendidikan termasuk homeschooling diakui sama sederajat dan diakui penuh dalam undang-undang sistem pendidikan nasional,” kata Aji. Keberadaan homeschooling, dapat membantu masyarakat yang memiliki keterbatasan mendapat akses pendidikan formal. Keterbatasan tersebut, biasanya disebabkan karena keterbasakan fisik (difabel), mengalami kekerasan di sekolah formal, ataupun anak memiliki kesibukan tinggi. “Kami tidak mempermasalahkan masyarakat sekolah di mana saja. Yang terpenting murid mendapatkan pembelajaran yang sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan, termasuk pendidikan karakter,” kata Aji. (bhn/iwa)