MAGELANG – Keberadaan museum Jenderal Sudirman di Kota Magelang tidak banyak yang tahu. Bahkan, mereka yang berkunjung ke museum yang ada di Jalan Ade Irma Suryani C7 Kota Magelang ini, juga kurang paham.Padahal, museum ini merupakan satu dari enam museum yang berisi koleksi milik Jenderal Sudirman di Indonesia. Selain di Kota Magelang, museum serupa juga ada di Banyumas, Sasmitaloka Jogjakarta, Pacitan, Monumen Jogja Kembali, dan Satria Mandala Jakarta.Pengelola Museum Jendral Sudirman, Muhammad Muhammad Ardani mengatakan, Museum Jenderal Sudirman biasanya ramai pada akhir pecan. Pada hari biasa, museum yang didirikan pada 1930 biasanya sepi pengunjung.”Padahal, untuk masuk museum ini tak dipungut biaya alias gratis,” ungkap Ardani, Sabtu lalu.Ardani melanjutkan, gedung peninggalan pemerintahan kolonial pada masa perang kemerdekaan ini, awalnya dijadikan tempat peristirahatan para tentara Indonesia, sekaligus kediaman Jenderal Sudirman. Gedung tersebut memiliki nilai sejarah tinggi. Di tempat ini, jenderal berbintang lima yang dikenal strategi perang gerilya itu, tutup usia pada Minggu, 29 Januari 1950, pukul 18.30.Menurut pria berusia 25 tahun ini, bangunan yang berdiri di depan Taman Badakan tersebut akhirnya dialihfungsikan menjadi museum pada 27 Februari 1976. Kemudian, museum tersebut baru dibuka untuk umum pada 1980.Masih menurut Ardani, Museum Jenderal Sudirman memiliki tujuh ruangan. Yaitu, ruang tamu, ruang kerja, ruang keluarga, ruang dokter pribadi, tempat tidur yang juga tempat meninggalnya Jenderal Sudirman, ruang makan, dan ruang dapur yang difungsikan menyimpan meja penyucian jenazah Jenderal Sudirman.Selain ruang tersebut, juga ada replika tandu. Saat ini, tandu yang asli disimpan di Museum Sasmitaloka, Jogjakarta. Koleksi lain, peta gerilya, lukisan perjuangan Jenderal Besar TNI Anumerta Soedirman, dan simulasi kemenangan perang Agresi Militer Belanda II di Magelang. Dikatakan, pengunjung yang datang ke museum mayoritas pelajar. Namun, tak seperti hari libur panjang, situasi menjadi sepi pada hari-hari biasa. “Kebanyakan dari luar daerah dan kebanyakan dari sekolah. Kalau pengunjung dari kota sini, cenderung sedikit,” katanya.Ada hal yang menarik di museum ini. Salah satunya, [apan berikut kasur dan spreinya. Sebab, barang-barang tersebut benar-benar masih asli yang dijadikan Panglima Besar (Pangsar) menghembuskan nafas terakhirnya. “Dari kasur, sprei, dan krodongnya masih asli. Di sini, Panglima Besar Jenderal Sudirman tutup usia. Seolah-olah kalau masuk ke ruang ini (kamar), suasana detik-detik wafatnya Jenderal Sudirman masih terasa,” ungkapnya.Ardani yang menjaga museum selama enam tahun itu, sedikit menceritakan perjuangan Jenderal Sudirman. Awalnya, pada 1930, museum ini adalah bangunan kolonial Belanda. Setelah Proklamasi, gedung beralihfungsi jadi asrama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 1948.Saat Agresi Militer Belanda II, gedung ini dijadikan pusat asrama personel TKR di Magelang. “Saat itu, Pangsar Sudirman melancarkan strategi perang geriliya yang ditakuti Belanda, sampai tahun 1949,” ceritanya.Menurut Ardani, Sudirman merupakan jenderal bintang empat yang paling muda. Pada umur 30 tahun, ia diangkat jadi jenderal dan melakukan strategi perang gerilya dan membuat nyali antek-antek Belanda menciut. “Sampai detik-detik terakhir usia beliau yang mengidap penyakit paru-paru, Sudirman tidak pernah tertangkap. Beliau wafat di usianya yang tergolong muda. Meski paru-parunya tinggal satu, masih berjuang untuk kemerdekaan rakyat Indonesia,” katanya.Ia berharap, setiap tahun koleksi museum yang dikelola Pemkot Magelang ditambah. Ia tidak memungkiri, keberadaan museum tidak banyak diketahui masyarakat Kota Magelang. “Perlu dilakukan promosi agar masyarakat mengetahui keberaadan museum ini dan sejarah yang menyertainya,” katanya.(dem/hes)