JOGJA – Lautan manusia memadati sepanjang ruas Jalan Malioboro hingga Jl Ahmad Yani depan Benteng Vredeburg Jogja kemarin (19/1). Ribuan orang tersebut antusias menyaksikan Festival Bregada Rakyat. Sejumlah 43 pasukan tradisional dan 2 pasukan eksibisi unjuk penampilan dalam festival tersebut.
Penghageng Keraton Jogja GBPH Yudhaningrat mengapresiasi festival ini. Menurutnya, kegiatan ini mampu menjadi ikon bagi setiap desa atau kampung.
Tujuannya, tegas dia, tak lain adalah untuk mendukung bentuk promosi wisata dan budaya di daerah tersebut. “Bentuk kreativitas setiap bregada sudah bagus. Di mana mampu mengusung hal-hal unik melalui aksesori, lagu, maupun gerakan. Bregada rakyat pun mampu menjadi inspirasi dan mencerminkan aktivitas rakyat,” kata Gusti Yudha, yang juga menjadi salah seorang juri dalam festival itu.
Juri lainnya yakni Penghageng Kadipaten Pakualaman KPH Indrokusumo, menyatakan, festival ini meninggalkan beberapa catatan. Dia menegaskan penampilan bregada rakyat tidak harus mirip dengan bregada yang dimiliki Keraton Jogja dan Kadipaten Pakualaman.
Kemiripan bregada rakyat dan bregada kerajaan harus dihilangkan. Harus beda.
Sebab, bregada dari Keraton Jogja dan Kadipaten Pakualaman mempunyai ciri khas. Mereka juga merupakan simbol pasukan kerajaan. “Bregada yang dimiliki keraton dan kadipaten sudah dipatenkan originalitasnya. Wajib bagi kita menjaga kepakemannya agar tidak berantakan. Tapi kalau terinspirasi dengan bregada resmi lalu dipoles dengan kreativitas itu lebih baik. Lebih baik lagi mengangkat potensi yang dimiliki oleh setiap kampung melalui bregada,” kata Indrokusumo.Bregada-bregada yang ikut pawai tampil gagah menyusuri sepanjang kawasan Malioboro. Selain mengedepankan kearifan, setiap bregada juga berhias.Festival ini khusus diadakan untuk merayakan Jogja Kota Republik pada 4 Januari lalu. Widihasto Wasana Putra selaku ketua acara, menambahkan, festival ini bukan sekadar sebagai wujud mendukung pariwisata di Jogjakarta. Kegiatan ini sekaligus bentuk gerakan budaya. “Bregada-bregada ini hanya tampil saat upacara adat merti desa di kabupaten atau kota. Bregada-bregada ini juga merupakan salah satu aset pariwisata daerah. Keberadaannya patut dilestarikan dan dikembangkan dengan wujud kegiatan selain merti dusun,” kata Hasto.Festival ini juga disemarakkan mars-mars perjuangan yang dibawakan Korps Musik Ajen Korem TNI-AD. Satu peleton Yonif 403/Wirasada Pratista juga mengawal festival ini. “Keikutsertaaan para tentara ini merupakan kemanunggalan TNI dengan rakyat,” kata Hasto.Dalam festival ini, para juri memutuskan Bregada Kyai Tanjung Anom dari Wonokromo, Pleret, Bantul sebagai juara pertama. Mereka meraih trofi Sri Sultan Hamengku Buwono X.Juara kedua direbut Bregada Pasembaja dari Jetis, Kota Jogja. Mereka berhak menerima trofi Sri Paduka Paku Alam IX.Juara ketiga diraih Bregada Ambarketawang dari Gamping, Sleman. Mereka mendapat trofi Komandan Korem 072/Pamungkas.Juara harapan pertama diraih Bregada Poeroebojo asal Sendangtirto Berbah, Sleman. Sedangkan juara harapan kedua dan ketiga direngkuh Bregada Jogobumi Adikarto dari Panjatan, Kulonprogo dan Bregada Kewibroto dari Mergangsan, Kota Jogja. “Bregada yang mendapatkan predikat telah lolos kriteria penilaian seperti desain kostum, kreativitas aksesori, komposisi musik pengiring, dan cara berjalan,” kata Hasto. (dwi/amd)