JOGJA – Kemarin (20/1) merupakan hari terakhir dispensasi bagi penyewa lahan di area Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) untuk membersihkan stan. Itu merupakan kelonggaran yang diberikan selama sehari.
Sebelumnya Dinas Ketertiban (Dintib) kota Jogja memberikan batas akhir sampai Minggu (19/1). Hari ini lokasi sekaten di alun-Alun Utara Jogja wajib bersih dari stan.
Berdasar pantauan Radar Jogja kemarin, aktivitas membongkar stan masih berlangsung. Para penyewa stan memindahkan barang-barang mereka.
Jika molor lagi, petugas dintib bakal bertindak tegas. Mereka siap membongkar paksa stan yang masih berdiri.
“Kami beri kelonggaran sampai hari Minggu. Kemudian tambah sehari sampai besok (hari ini). Jika masih ada stan yang berdiri, kami akan membereskan dagangannya,” kata Kepala Dintib Kota Jogja Nurwidihartana kemarin (20/1).
Sesuai kontrak dinyatakan sewa stan PMPS berakhir saat sekaten usai pada Selasa (14/1). Ini berlaku untuk seluruh stan. Tapi, isi kontrak itu tak bisa berjalan maksimal. Pemkot pun sempat bersikap lunak dengan memberikan kelonggaran.
Berdasarkan pengalaman tahun lalu, beberapa stan terutama penjual pakaian bekas atau awul-awul masih berdiri hingga beberapa hari setelah sekaten bubar. Bahkan, petugas dintib sempat diabaikan saat memberikan peringatan agar para penyewa stan membersihkan stan.
“Kalau diberi peringatan tidak dilaksanakan, kami akan tertibkan dengan membongkar paksa,” tegasnya.
Terkait pendapatan dari penyewaan stan di arena seketan, tercatat ada pemasukan mencapai sekitar Rp 1,5 miliar. Itu berasal dari sewa 369 kapling yang terjual dari total 448 kapling.
Terpisah, Sekretaris Forum Komunikasi Kawasan Alun-alun Utara (FKKAU) Krisnadi Setiawan mengatakan, usai penutupan sekaten sebagian penyewa mulai membongkar stan. Dia juga menyatakan sepakat area Alun-Alun Utara bebas dari stan PMPS pada Minggu (19/1).
“Melihat realitas yang ada, membongkar material berat konstruksi stan membutuhkan waktu lebih dari satu hari. Kami akan mengawal pembongkaran sampai bersih,” ujarnya. (eri/amd)