JOGJA – Bupati Bantul Sri Surya Widati memenuhi panggilan Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIJ kemarin (20/1). Dalam pemeriksaan itu, Ida, sapaannya, ditanya seputar proses anggaran hibah di Kabupaten Bantul dan naskah perjanjian hibah daerah (NPHD).
“Ada 31 pertanyaan: yang diajukan penyidik,” kata Ida kepada wartawan usai diperiksa.
Namun, saat diperiksa Ida menolak memberikan keterangan untuk tersangka HM Idham Samawi. Alasannya, dia masih memiliki hubungan keluarga yakni sebagai istiri dari Idham.
“Tadi Bu Bupati Bantul hanya diperiksa untuk tersangka EBN (Edy Bowo Nurcahyo). Dia menolak memberikan keterangan untuk tersangka IS (Idham Samawi) karena statusnya sebagai istri IS,” kata Kasi Penkum Kejati DIJ Purwanto Sudarmaji.
Saat datang ke gedung kejati, Ida ditemani anak buahnya. Ia tiba di kejati pukul 08.50. Dia meninggalkan kejati pukul 16.15.
Ia di dampingi Kabag Hukum Setda Bantul Gunawan Budi Santoso dan Kepala Satpol PP Bantul Kandiawan NA. Ada pula sekretaris pribadinya, Beny.
Begitu tiba, Ida langsung mengisi buku tamu yang ada di pos penjagaan. Selanjutnya, dia diantarkan petugas kejaksaan menuju lantai tiga tempat pemeriksaan dilakukan.
“Yang memimpin pemeriksaan langsung Ketua Tim Penyidik Pindo Kartikani,” lanjut Purwanta.
Selama pemeriksaan tersebut, awak media yang biasa meliput di lembaga yang dipimpin Suyadi SH tak diizinkan naik ke lantai tiga. Begitu pula pendukung bupati Bantul itu yang tak seluruhnya diizinkan naik. Lif dan tangga dijaga petugas pengamanan kejaksaan.
“Mohon maaf. Ini terpaksa kami lakukan agar penyidik bisa fokus saat melakukan pemeriksaan,” jelas Purwanta. Ia mengakui pengamanan semacam ini berkaca pada peristiwa sebelumnya saat penyidik memeriksa Idham sebagai saksi pada 18 November 2013.
Disinggung mengenai materi pertanyaan yang diajukan penyidik, Purwanta mengaku tak tahu. Sebab, materi pertanyaan sepenuhnya ada di tangan pinyidik. Purwanta juga tak tahu apakah akan ada tersangka lain dalam kasus hibah senilai Rp 12,5 miliar ini.
“Ada tidaknya tersangka lain itu tergantung pengembangan penyidik. Saya tidak bisa memastikan karena itu murni hasil penyidikan,” kelitnya. (mar/kus)
Sterilkan Lantai Tiga Kejati
Tim penyidik tampaknya ingin perkara dugaan korupsi hibah Persiba senilai Rp 12,5 miliar cepat tuntas. Selain mulai memeriksa kedua tersangka, penyidik ternyata sudah ekspos dengan auditor Badan Pengawasan Keuangan, dan Pembangunan (BPKP) DIJ. Hanya, Kasi Penkum Purwanta Sudarmaji tak bisa menyebutkan kapan ekspose itu dilakukan.
“Saat koordinasi ada juga auditor BPKP Pusat,” kata Purwanta kemarin.
Selain berkoodinasi dengan BPKP, tim penyidik tengah menghitung nilai kerugian keuangan negara. Hitungan penyidik tersebut sifatnya internal.
“Nanti penyidik tetap menggunakan hitungan dari auditor negara,” jelas Purwanta.
Rencananya, hari ini giliran tersangka Edy Bowo Nurcahyo diperiksa. Sedangka tersangka HM Idham Samawi pada Kamis (23/1). “Ditahan atau tidak itu kewenangan penyidik. Yang jadi pertimbangan tentu apakah dia mempersulit penyidikan atau tidak,” kata Kajati Suyadi kemarin.
Ketua Jaringan Anti Korupsi (JAK) Zainurrahman mendesak penyidik agar mengorek keterangan sebanyak mungkin dari Ida. Sebab. diduga Ida memiliki informasi banyak mengenai proyek-proyek di Kabupaten Bantul.
“Jangan hanya seputar hibah Persiba,” kata Zainurrahman.
Dugaan Ida memiliki informasi lain sejalan dengan statusnya yang menjadi bupati Bantul sekaligus istri salah satu tersangka HM Idham Samawi. “Ibu bupati harus jujur kepada penyidik. Jangan ada yang ditutup-tutupi, ini demi rakyat Bantul dan negeri ini,” terangnya. (mar/kus)