SLEMAN- Kantor Kementerian Agama Sleman memelopori program pelestarian lingkungan, yang dikaitkan dengan kegiatan pernikahan dan pendidikan di madrasah. Setiap pasangan yang menikah, calon suami diimbau memberikan mas kawin berupa pohon atau bibit pohon kepada mempelai perempuan. Istilahnya, pernikahan hijau lestari.Bahkan, souvenir pernikahan sebisa mungkin berupa bibit pohon. Setidaknya dalam setiap pernikahan minimal ada sebatang pohon baru ditanam. Kepala Kantor Kemenag Sleman HM Lutfi Hamid menuturkan, rogram tersebut merupakan keberpihakan instansinya untuk mendukung pelestarian lingkugnan hidup.Lebih dari itu, Lutfi ingin menanamkan mental bahwa menanam pohon sebagai landasan ideologis. “Mas kawin berupa pohon itu termasuk amal jariyah,” jelas Lutfi kemarin (20/1).Lutfi menegaskan, mas kawin berupa bibit pohon tidak akan mengurangi sakralitas perkawinan. Diakuinya, selama ini ada pandangan keliru yang menganggap mas kawin harus berupa benda mati. Pandangan itu merupakan aktualisasi nilai agama yang tereduksi secara tidak proporsional.Menurut Lutfi, mas kawin pada hakekatnya adalah tanggung jawab suami terhadap istrinya. Nah, pemberian itu akan lebih bernilai jika bermanfaat bagi masyarakat. Lutfi tidak setengah-setengah dalam program ini. Dia telah mengeluarkan surat edaran yang berisi imbauan mengenai pencanganan penanaman pohon pada setiap pernikahan.Bahkan, dia meminta setiap wali nikah (mudin/penghulu) agar senantiasa menyarankan kepada mempelai menjadikan pohon sebagai mas kawin atau monument perkawinan. “Agar hal itu disiarkan dalam setiap khutbah dan pembinaan kepada calon temanten,” pintanya.Lutfi mengklaim, mas kawin berupa bibit pohon tidak akan membebani calon pengantin. Alasannya, harga bibit pohon hampir sama dengan souvenir pernikahan pada umumnya. Jika program itu berjalan, setiap tahun rata-rata ada enam ribu pohon tertanam. Itu sejumlah pernikahan yang terdaftar di Kantor Urusan Agama (KUA) Sleman setiap tahun.Kepala Kantor Lingkungan Hidup Sleman Ephipana Kristiyani mengapresiasi program yang dilontarkan Lutfi Hamid. Menurut dia, itu sejalan dengan RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Sleman yang menitikberatkan pada dua permasalahan utama. Yakni degradasi lingkungan serta dampak pemanasan global dan perubahan iklim. “Itu tergantung perilaku seseorang. Selama ini belum semua orang sepakat mengelola lingkungan dengan baik,” ungkapnya.Ephipana mengatakan, pernikahan dengan mas kawin pohon memiliki nilai edukasi. Setidaknya, hal itu bisa ditanamkan oleh pasangan temanten kepada anak mereka kelak. Utamanya mengenai fungsi ekologi air tanah dan penyedia oksigen. “Penanaman cinta lingkungan harus dilakukan sejak anak usia dini,” ucap Ephipana.(yog/din)