MIMPI-MIMPI: Anak-Anak Teater “Dom” SMA N 3 Purworejo berlatih dan mempersiapkan diri untuk pementasan Lakon Mimpi-Mimpi.
Teater “Dom” SMAN 3 Purworejo Bawakan “Mimpi-Mimpi” Karya TB Kamaludin
Mengambil judul Mimpi-Mimpi, karya TB Kamaludin, anak-anak muda dari SMAN 3 Purworejo siap pentas. Lakon ini sangat faktual dan kontekstual. Bahkan, jamak menjebak situasi orangtua dan anaknya. Sebagai karya yang cukup unik, lakon ini coba digarap dan dipentaskan mereka. Seperti apa persiapannya?
HENDRI UTOMO, Purworejo
MIMPI itu bebas dan milik siapa saja. Tidak boleh dipaksakan karena bisa melanggar hak asasi manusia. Sekilas, pesan moral itu kuat disampaikan dalam lakon Mimpi-Mimpi yang akan dipentaskan kelompok Teater “Dom” SMA N3 Purworejo, yang beralamatkan Jalan Jogjakarta KM 8, Desa Keduren, Kecamatan Purwodadi, Purworejo. Sejumlah persiapan dan latihan dilakukan anak-anak SMAN 3 Purworejo di bawah asuhan Heri Sugiharto, pentolan Teater Gema Semarang.Di sebuah gazebo di sudut sekolah yang belum rampung direhab, mereka berkumpul mendalami peran. Naskah boleh dibilang terlihat lusuh, sobek di sisi-sisi. Lantaran terlalu sering dibolak-balik dan dicermati jengkal demi jengkal kalimat, disesuaikan intonesi dan mimik wajah saat mengucapkannya.Niat anggota Teater “Dom” mengangkat lakon ini pantas mendapat apresiasi. Terlebih, mereka berani mengambil tema yang faktual, namun lain. Tidak mau latah dengan memilih lakon romansa percintaan khas remaja, lakon ini berbeda dan tidak terlalu sering dimainkan seniman dan senias di media pementasan atau pertunjukan. Kritik moral yang tajam terasa jelas dari lakon ini. Kisah yang ringan, juga memprihatinkan. Ini jamak terjadi di tengah kehidupan. Orangtua memaksa anaknya bermimpi menjadi ini dan itu. Otoriter, hingga mimpi sang anak harus persis sama seperti apa kehendaknya.Bakat dan naluri anak kandang tega dibunuh. Anak harus tumbuh menjadi manusia robot, belajar untuk tak tahu apa yang akan dilakukan dan sesat arah ketika melaui mahir melakoni mimpi yang dikehendaki kedua orangtuanya. “Lakon ini dimainkan 20 anak. Tiga menjadi tim artistic dan 17 sisanya tampil memerankan tokoh Rik, Dreamy, Ibu Guru, Murid, Ayah dan Bunda. Pentas kali ini terbilang spesial, lantaran baru pertama dimainkan anak-anak Teater Dom,” ungkap Heri Sugiharto, pembimbing Teater Dom SMA N 3 Purworejo, kemarin (22/1).Heri melanjutkan, Lakon “Mimpi-Mimpi” menjadi lain, khususnya untuk geliat komunitas teater pelajar. Bukan apa-apa, lakon ini sangat kontekstual dan banyak dijumpai di hampir setiap keluarga. Bahkan, pemaksaan mimpi sering menjadi penyakit sikis. Seperti moral yang dilanggengkan. “Mimpi Rik 1 yang ingin menjadi bintang ternyata dijawab tegas oleh ayah dan bundanya, Rik 1 harus bermimpi menjadi astronot. Dalam lakon Mimpi-Mimpi ini, ternyata bermunculan Rik-Rik lain yang mengalami nasib serupa. Sangat kuat pesan moral dan psikologis. Diharapkan bisa jadi sebuah hiburan dan pembelajaran,” jelasnya.Ia mengatakan, sesuai judul, tema, dan peran yang dimainkan. Setting pementasan hanya ada tiga. Yakni, lokasi sekolah, rumah, dan tempat tidur. Pementasan dimainkan di Gazebo Kompleks SMA N 3 Purworejo, Latihan dimulai sejak Oktober 2013 dan kini persiapan sudah hampir 75 persen.Ketua Teater Dom SMA N 3 Purworejo Arum Sulistiyowati, 16, siswa kelas XI IPS 3 mengungkapkan, ia tidak sabar mementaskan lakon Mimpi-Mimpi. Ia optimistis mampu tampil maksimal. Lantaran apa yang diperankan sangat umum dan jamak dialami anak-anak seusianya. “Orangtua memaksa mimpinya, itu hal yang jamak, kendati melanggar hak anak. Ketika orangtua memaksakan mimpinya agar si anak menjadi astronot, dokter, guru, tentara, polisi atau apa saja, justru sia-sia. Itulah yang terjadi, mimpi orangtua mungkin dulu juga direnggut kakek. Sementara mimpi kami dipaksa orangtua. Pemaksaan mimpi secara tak sadar terus terjadi dan berulang,” ungkapnya. Menurut Arum, persiapan pementasan lakon Mimpi-Mimpi kali menjadi pengalaman berharga. Karena setiap pemeran diwajibkan menghayati secara total tokoh yang dimainkan.Kepala Sekolah SMAN 3 Purworejo Dra Sri Sujarotun MPd mengaku senang dengan semangat Teater “Dom”. “Sementara ini, mereka ditempa dan fokus internal. Kebanyakan anggotanya kelas X dan XI. Karena untuk kelas XII, harus fokus ujian. Apa yang terlihat dan dilakukan anak-anak pantas diapresiasi. Semoga menjadi pengalaman dan pelajar yang baik bagi mereka,” katanya.Waka Kesiswaan Irawan Catmoputro SPd mengamini. Ia melihat anak-anak bersemangat dan serius mempersiapkan pentas yang berdurasi 45 menit. “Secara mendasar, mereka peka dan memiliki intusisi yang kuat, ketika ikut kegiatan teater semacam ini,” katanya.(*/hes)