JOGJA – Pemprov DIJ tidak akan memanfaatkan 20 bus milik Pemkot Jogja yang sebelumnya digunakan sebagai armada Transjogja. Bus-bus itu segera dikembalikan.Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) DIJ Budi Antono menyampaikan, berita acara pengembalian yang ditandatangani pemprov dan pemkot sedang dibuat. Rencananya hari ini (23/1) berita acara tersebut selesai.Menurutnya, pemkot masih mengkaji tempat untuk menampung bus tersebut. Beberapa waktu lalu, pemprov sudah berkonsultasi dengan Dinas Bangunan Gedung dan Aset Daerah (DBGAD) Jogja guna membahas kemana pemprov harus mengembalikan 20 bus tersebut. “Kami lakukan konsultasi ke lembaga penangan asset. Kalau kami mau mengirimkan, itu dikirimkan kemana? Mereka butuh tempat,” katanya saat ditemui di Kepatihan Pemprov DIJ kemarin.Selama ini bus-bus tersebut disimpan di Jembatan Timbang Kalasan milik Dishubkominfo DIJ. Menurut pejabat yang akrab disapa Anton itu, petugas di jembatan timbang itu juga merasa terganggu dengan keberadaan bus-bus tersebut. Sebab, lahan jembatan timbang menjadi lebih sempit.Padahal, lokasi tersebut sedianya digunakan untuk parkir kendaraan berat. Terkadang juga untuk bongkar muat isi truk. “Jadi tempatnya jadi lebih sempit,” ujarnya.Walau sempat berhenti beroperasi hampir setahun, menurutnya, bus-bus tersebut masih layak jalan. Beberapa waktu lalu pemkot dan pemprov mengecek kondisi bus. “Cek dan ricek di sana (Jembatan Timbang Kalasan) klir dan layak jalan,” terang mantan kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) itu.Sejak Mei 2013 pemprov menyurati pemkot perihal status puluhan bus itu. Akhirnya, provinsi memutuskan untuk mengembalikan bus-bus tersebut.Kata dia, pemkot harus membahas dengan DPRD Kota. “Namun dewan baru mau membahas jika bus tersebut sudah dikembalikanke Kota secara formal,” katanya.Bus milik pemkot itu berhenti beroperasi saat diketahui menggunakan pelat kuning palsu yang berbeda dengan nomor polisi di surat tanda nomor kendaraan (STNK). Untuk menyelesaikan persoalan pelat tersebut, 20 bus tersebut harus diserahkan ke pihak ketiga supaya pelat bisa diubah secara legal dan menjadi armada Transjogja.Sebelumnya 20 bus pemprov yang mengalami hal sama sudah diserahkan ke PT Anindya Mitra Internasional (AMI), BUMD milik pemprov. Sedianya, pemkot melakukan hal yang sama.Namun ternyata pembahasan soal rencana penyertaan bus ke pihak ketiga antara pemkot dan dewan berlarut-larut. Akibatnya, bus tersebut mangkrat selama setahun.Untuk menggantikan 20 bus milik pemkot, Anton berharap PT Jogja Tugu Trans (JTT) selaku operator Transjogja bisa menyediakan bus sendiri. Saat ini ada 54 armada Transjogja yang terdiri 34 bus milik JTT dan 20 milik AMI. Dalam APBD dianggarkan BOK untuk 74 bus. Sehingga dalam perubahan perjanjian ketiga antara JTT dan Pemprov DIJ terkait pengelolaan Transjogja, JTT akan menyediakan bus sendiri.Anton mengaku kurang tahu pasti kapan 20 bus baru akan siap beroperasi. Namun, saat ini JTT sedang berupaya membeli 20 bus dari Trans Bandarlampung senilai Rp 8,5 miliar dengan anggaran perusahaan. “Kapan adanya, itu yang tahu PT JTT,” tandas Anton. (hed/amd)