SLEMAN – Ada hal baru dalam proses penyidikan kasus meninggalnya wartawan Harian Bernas Fuad Muhammad Syafrudin alias Udin. Itu terkuak dalam sidang gugatan praperadilan yang diajukan oleh Jogja Police Watch (JPW) kepada Polda DIJ di Pengadilan negeri Sleman kemarin (22/1).Eksepsi yang dibacakan kuasa hukum Kapolda DIJ Heru Nurcahya SH, dalam pokok perkara membantah semua tudingan pemohon yang termaktub dalam materi gugatan praperadilan pada sidang Selasa (21/1). Pada butir (4), Heru menyatakan bahwa ketidakpercayaan pemohon terhadap kinerja kepolisian dalam mengungkap meninggalnya Udin sebagai penilaian subjektif.Heru mengkaim, kepolisian telah melakukan tindakan guna mengungkap tindak pidana dalam perkara a quo. Menurut dia, Polda DIJ selalu menindaklanjuti dan mendalami setiap masukan baik berupa informasi maupun bukti petunjuk yang disampaikan pemohon maupun elemen masyarakat lain sesuai kewenangan. “Setelah didalami ternyata belum bisa ditemukan tersangka lain. Dengan kata lain, informasi dan atau bukti petunjuk tersebut tak ada korelasinya dengan perkara a quo,” papar Heru.Pernyataan itu justru makin menguatkan sikap penyidik Polda DIJ yang tak mampu mengungkap pembunuh Udin. Setidaknya, itu sesuai pernyataan saksi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Jogjakarta Sihono HT. Kepada hakim tunggal Sutikna SH, saksi menyatakan telah memperoleh fotokopi surat jawaban dari Polda DIJ untuk Ombudsman Republik Indonesia (ORI). Inti dari surat itu adalah menanyakan perkembangan penyidikan kasus Udin. “Surat tertanggal 20 Februari 2013 tersebut menyebutkan bahwa polisi masih berkeyakinan bahwa Iwik adalah pelaku utama tewasnya Udin,” jelas Sihono.Menurut Sihono, tak adanya kepastian hukum atas kasus yang mengakibatkan tewasnya seseorang yang berprofesi wartawan akan menjadi preseden buruk. Karena itu, PWI Jogja juga telah mengajukan gugatan praperadilan serupa beberapa waktu lalu.Sihono juga mengingatkan kembali pernyataan Kapolri Jenderal Polisi Sutarman. Pernyataan itu beberapa waktu lalu dipublikasikan di banyak media masa baik cetak maupun elektronik.Saat itu, kata dia, Sutarman mengatakan penanganan kasus Udin salah sejak awal pengusutan. Ada tiga hal kesalahan utama yakni polisi tak mengamankan tempat kejadian perkara, melarung darah Udin, dan mengorbankan Iwik menjadi tersangka.Ketua JPW Asril Sutan Marajo berpendapat, keganjilan atas keterangan kuasa hukum termohon itu lantaran adanya kontraindikasi dengan vonis Pengadilan Bantul yang menyidangkan Iwik. Pada 27 Nopember 1997 Iwik dibebaskan karena tak terbukti membunuh Udin atas tuduhan perselingkuhan. Bahkan, dalam kasus tersebut jaksa penuntut umum juga menuntut bebas Iwik. “Itu sudah jelas. Kok polisi masih yakin kalau Iwik pembunuh Udin. Ini aneh,” ucapnya usai sidang.Asril juga menampik polisi telah melakukan penyelidikan sesuai petunjuk yang pernah diberikannya selaku anggota Tim Pencari Fakta (TPF) Kasus Udin. Dia meyakini meninggalnya Udin karena pemberitaan yang ditulisnya semasa pemerintahan Bupati Bantul Sri Roso Sudarmo. (yog/amd)