Tiga tahun bukan proses yang pendek bagi Book For Mountain (BFM). Komunitas ini secara kolektif berkontribusi untuk pendidikan di Indonesia agar lebih baik.
Dewi Sarmudya, Jogja
Bukan untuk menyelesaikan permasalahan pendidikan yang ada. Tapi, fokus pada pembangunan perpustakaan untuk anak-anak di berbagai sekolah dasar (SD) di pelosok negeri. Itu dipegang teguh para relawan Book For Mountain.
Berdiri sejak 2010, komunitas yang lahir dari kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) yang diselenggarakan UGM ini memulainya dengan membangun perpustakaan sekolah. Lokasinya di salah satu daerah di kaki Gunung Rinjani, Lombok Timur, NTB. Dari sebuah program KKN, semangat memanfaatkan ruang kosong menjadi sumber ilmu pun terus dilanjutkan ke daerah lainnya.
“Respons positif dari para donatur buku terus berlanjut saat KKN selesai. Dari buku yang terus berdatangan kami bisa membuat enam perpustakaan di tempat berbeda di Lombok Timur,” ujar salah seorang anggota Divisi Perpustakaan BFM Prima Dini Indria kemarin (23/1).
Hingga akhir 2013 sudah ada 18 proyek perpustakaan yang dibangun. Antara lain di Rinjani (Lombok Timur), Muntilan (Jawa Tengah), Bromo, Bone (Sulawesi Selatan), Sebesi (Lampung), Semeru, Asahan (Sumatera Utara), dan Belu (NTT). Ada pula di Bintuni (Papua Barat), Lebak (Banten), dan Nusa Penida.
Pada masa erupsi Merapi pada 2010 lalu, komunitas ini juga tidak tinggal diam. Mereka mengambil langkah untuk mengadakan sekolah darurat di sana.
Donasi buku yang datang diseleksi kemudian disalurkan kembali ke perpustakaan yang sudah berdiri. Utamanya yakni buku anak-anak, mulai dari buku cerita, buku agama, ensiklopedia hingga kamus. Buku-buku yang ada menjadi pancingan bagi anak-anak untuk gemar membaca.
“Sebelum kami tinggal, pengelolaan kami serahkan pada guru setempat. Sebelumnya juga kami beri edukasi tentang pengelolaan perpustakaan,” ujar Prima.
Kesibukan membangun perpustakaan di pelosok negeri, tidak menutup mata komunitas ini pada anak-anak di DIJ. Gairah minat membaca pada anak-anak dilihat masih sangat kurang, menelurkan gagasan untuk membuat kegiatan Sekolah Berjalan (SekBer). Kegiatan ini biasanya dilakukan per tiga minggu sekali dengan mendatangi tempat-tempat di pelosok DIJ.
“Membawa buku-buku anak, kegiatan menumbuhkan minta baca ini dilakukan dengan cara mengajar sambil bermain. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, kegiatan ini sudah menjangkau belasan lokasi di DIJ,” ungkapnya.
Meski berangkat dari komunitas mahasiswa UGM, BFM mampu menjaring sukarelawan dari berbagai kampus di Jogja. Seperti mahasiswa dari UNY, UIN Sunan Kalijaga, Universitas Ahmad Dahlan dan sebagainya. Secara kolektif mereka menerima donasi buku dari dropbooks yang sudah ada seperti di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bandung, Bogor, Denpasar, dan Jogjakarta. Selain itu, mencari jaringan baru untuk mengumpulkan lebih banyak buku bagi anak-anak. (*/ila)