Ada Penolakan, Pemberantasan DBD Jalan Terus
SLEMAN – Meski mendapatkan penolakan terkait pelepasan nyamuk aedes aegypti wolbachia di Nogotirto, Gamping, Sleman, tim peneliti UGM melalui Eliminate Dengue Project (EDP) Jogja, tetap meneruskan penelitian tesebut.Entomologis (ahli serangga) dari EDP Jogja Warsito Tantowijoyo mengatakan, EDP akan melakukan pelepasan nyamuk aedes aegypti wolbachia secara bertahap 16 hingga 24 minggu. Sebanyak 50 nyamuk akan dilepas selama satu minggu sekali dengan jarak 20 meter.”Setiap satu meter akan kami lepas seekor nyamuk,” jelas Warsito kepada wartawan di UGM (23/1).Nantinya, kata Warsito, nyamuk ber-wolbachia apabila melakukan perkawinan dengan nyamuk aedes aegypti setempat akan menghasilkan generasi baru nyamuk yang telah mengandung wolbachia. Dia meyakinkan pendekatan tersebut tidak memerlukan perlakuan berulang-ulang agar tercapai dampak penurunan kasus demam berdarah.Rencananya pada 2014 pelepasan aedes aegypti wolbachia dilakukan di dua lokasi, yaitu Nogotirto dan Trihanggo, Sleman. “Tim akan terus melakukan pemantauan intensif terhadap nyamuk, dan deteksi dini kejadian demam berdarah di masyarakat selama dua tahun terus-menerus,” kata Warsito.Peneliti utama EDP Riris Andono Ahmad memaparkan, bakteri wolbachia adalah bakteri alami yang banyak ditemukan pada beberapa serangga yang umum di Indonesia seperti lalat buah, ngengat, kupu-kupu dan capung. Bahkan bakteri ini ditemukan di dalam tubuh aedes albopictus yang masih berkerabat dengan nyamuk aedes aegypti.”Teknologi ini berbeda dengan pendekatan pemberantasan nyamuk yang selama ini ada, karena teknologi ini fokusnya untuk melawan virus dengue secara langsung,” kata Riris.Dia mengatakan wolbachia menyebabkan virus dengue tidak dapat berkembang biak di dalam tubuh nyamuk, sehingga nyamuk tersebut tidak dapat menularkan demam berdarah. Selain itu, bakteri ini juga memperpendek umur nyamuk aedes aegypti sehingga kemampuan nyamuk untuk menularkan virus semakin pendek.Kepala Dusun Kronggahan II, Anto Sudadi yang hadir bersama Warsito mengatakan pelepasan nyamuk aedes aegypti yang ber-wolbachia telah dilakukan dengan lancar. Dia mengakui memang terdapat sebagian kecil masyarakat setempat kurang setuju program EDP.”Ini karena belum paham sepenuhnya cara kerja serta manfaatnya,” kata Anto.Sebelumnya, warga RT 03/11 Nogotirto yang menolak adanya penelitian tersebut, Ahmad Ma’ruf meminta penundaan pelepasan nyamuk tersebut. Ini disebabkan belum adanya jaminan tertulis tentang penanggulangan apabila timbul dampak negatif dari pelepasan nyamuk tersebut.Dosen Fakultas Ekonomi UMY tersebut mengatakan, bila EDP tetap akan melepas nyamuk dengan dalih telah mendapat persetujuan dari Bupati Sleman, maka warga yang menolak meminta bukti persetujuan tertulis dari bupati tersebut. “Kami akan mempertimbangkan untuk membawa persoalan ini ke LBH maupun PTUN guna pembatalan,” tegas Ahmad. (bhn/iwa)