Palang Perlintasan Membuka Sendiri
SLEMAN – Duka menyelimuti langit Jogjakarta. Kecelakaan maut yang melibatkan Kereta Api (KA) Senja Utama Solo jurusan Jakarta-Solo terjadi di perlintasan Tegalyoso, Banyuraden, Gamping, Sleman, kemarin pagi (23/1).
Empat orang meninggal dunia. Selain itu, seorang lainnya mengalami luka berat. Sepur yang melaju dari arah barat itu menyambar tiga sepeda motor yang dikendarai para korban.
Empat korban meninggal dunia tersebut adalah warga Sleman. Mereka adalah Supurwanto, 41, warga Somodaran RT5/20 Banyuraden Gamping; Sumardi, 58, warga Kanoman 31/5 Gamping; Latifa Silvia Epriliani, 17, warga Prenggan, Sidokarto, Godean; dan Gitri Yuda Widada, 18, Temuwuh Lor, Balecatur, Gamping. Mereka meninggal dengan luka bakar di tubuh.
Latifa dan Gitri merupakan pelajar SMAN 1 Gamping. Sekolah tersebut berada persis di sebelah utara pintu perlintasan kereta api tersebut.
Seorang korban yang mengalami luka berat juga merupakan pelajar SMAN 1 Gamping. Dia adalah Ahmad Wido Pratomo, 17, warga Perum Griya Gejayan Indah 05/49. Korban dirawat di RS PKU Muhammadiyah Jogja. Hingga siang kemarin dia belum sadarkan diri.
Tiga sepeda motor itu yakni Honda Astrea Grand dengan pelat nomor polisi AB 4256 LS, Suzuki Shogun merah AB 4471 WD, dan Vespa biru tanpa pelat nomor.
Isak tangis dan teriakan histeris mewarnai SMAN 1 Gamping kemarin. Sejumlah pelajar bercucuran air mata. Tangisan mereka seolah menunjukkan kepedihan atas kepergian teman-teman mereka.
Salah seorang saksi, Rendra Graha, 19, menjelaskan, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 07.00. Sebelum kecelakaan terjadi, palang pintu perlintasan kereta api tersebut tertutup.
Lantas meluncur Kereta Api Prambanan Ekspres (Prameks) dari arah timur. Para pengendara berhenti sebelum di palang pintu itu.
Sesaat usai Prameks tersebut melintas, palang perlintasan sisi sebelah selatan terbuka. Pengendara yang sudah mengantre di depan palang perlintasan segera melajukan kendaraan.
Ternyata, masih ada kereta api yang hendak lewat. Yakni, Kereta Api Senja Utama Solo. Sepur itu meluncur dari arah berlawanan yakni barat.
Brakk… Tabrakan tak dihindari. Benturannya begitu keras.
“Hanya dalam hitungan detik,” tutur Rendra.
Dia menceritakan, saat mendengar suara kereta api melaju dari arah barat terdengar suara dari beberapa pengendara yang mengantre di dekat palang pintu. Para pengendara itu berteriak yang intinya mengingatkan ada kereta api yang juga akan melintas.
“Ada yang teriak-teriak,” imbuhnya.
Tapi, para korban terlanjur melajukan kendaraannya. Tragedi pun tak terhindarkan.
Informasi yang diperoleh Radar Jogja menyebutkan, tragedi itu diduga kuat akibat human error atau kelalaian manusia. Sebab, palang pintu sisi selatan itu terbuka meski masih ada kereta api yang akan lewat.
Kemungkinan palang pintu tersebut dibuka oleh petugas jaga. Sang penjaga itu yakni Setiyanto, 32, warga Gunturan, Triharjo, Bantul.
Sejumlah saksi mata mengaku tidak melihat ada pengendara yang membuka paksa palang pintu itu usai Prameks melintas dari arah timur. Para pengendara tetap antre di depan palang pintu.
“Tidak mungkin (palang pintu) kalau buka sendiri. Kemungkinan dibuka petugas karena ada jeda dengan kereta pertama (Prameks) dari arah timur,” tambahnya.
Setiyanto sempat diperiksa kepolisian. Dia mengaku palang pintu perlintasan tersebut membuka sendiri. Artinya, ada kesalahan teknis pada peranti palang pintu yang menyebabkan palang pintu tersebut membuka sendiri.
Polisi masih terus mendalami keterangan yang diberikan Setiyanto. Mereka juga masih melakukan pemeriksaan dan mengumpulkan keterangan saksi-saksi. Polisi juga melakukan olah tempat kejadian.
Hingga kemarin sore polisi belum menetapkan tersangka dalam tragedi ini. Usai kejadian, Setiyanto dibawa ke Mapolsek Gamping.
“Penjaga pintu masih diperiksa. Kami masih dalami kasus ini,” ungkap Kapolres Sleman AKBP Ihsan Amin kemarin.
Pendalaman penyelidikan difokuskan pada kemungkinan faktor human error. Menurut Ihsan, kelalaian sehingga terjadinya tragedi ini bisa dilakukan oleh penjaga palang kereta api atau korban pengendara sepeda motor. Bisa juga karena sistem manajemen perlintasan (error in technic). “Kami masih periksa saksi-saksi,” lanjutnya.
Tragedi ini menyita perhatian Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daops) VI Jogjakarta Bambang Setyo Prayitno. Dia menjelaskan, PT KAI masih menunggu hasil penyelidikan dari kepolisian.
KAI juga belum bersikap terkait informasi yang menyebutkan kemungkinan palang perlintasan terbuka sendiri. Dia juga tidak bantak berkomentar mengenai potensi tragedi ini disebabkan human error atau tehnic error.
“Kami serahkan kepada tim penyelidik,” tuturnya.
Meski demikian, dia menegaskan KAI tetap menurunkan tim investasi internal. Tim bertugas menguak penyebab kecelakaan tersebut. Termasuk menyelidiki penyebab palang perlintasan kereta terbuka.
“Kalau petugas penjaga (Setiyanto) itu masuk shif pagi. Baru masuk pukul 06.00. Jadi, badannya juga masih bugar,” lanjutnya.
Setiyanto, imbuh Bambang, juga telah mengikuti sertifikasi dari Direktorat Jenderal Perekeretaapian Kementerian Perhubungan. Itu merupakan syarat formal untuk seorang yang bertugas sebagai penjaga palang pintu kereta api.