Tari Angguk dari Perbukitan Menoreh, Berupaya Raih HAKI
Tari angguk, demikian nama tarian khas Kulonprogo yang awalnya berkembang di kawasan Perbukitan Menoreh atau perbatasan dengan Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Kali ini, tarian angguk mencoba dikreasikan dengan gerakan senam. Tentu, selain nguri-uri budaya, masyarakat akan termotivasi hidup sehat melalui tarian atau senam angguk yang inovatif.
ALI MUFID, Wates
JIKA kita melihat sepintas memang tari angguk mirip dengan kesenian ndolalak dimana tarian itu biasa dimainkan para remaja putri. Ya, dominasi gerak anggukan kepala, itulah yang menjadi ciri khas tarian tersebut. Dalam perkembangannya, tarian angguk banyak digandrungi semua kalangan mulai dari anak-anak, remaja, sampai orang tua. Selain itu, tari angguk juga kerap dipentaskan di beberapa desa di Kulonprogo pada berbagai kegiatan seperti senam Minggu pagi.Ketua Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (Formi) Kulonprogo Kasdiyono mengatakan, senam angguk yang menjadi ciri khas Kulonprogo sudah menyebar di beberapa pedesaan. Bahkan tarian angguk yang dikreasikan dengan gerakan senam juga sering dimainkan di beberapa sanggar. Tentu, senam angguk sudah cukup lama dikenal di kalangan masyarakat. “Tarian atau senam angguk, selain bisa dikombinasikan dengan olahraga, ada unsur tariannya juga. Pada intinya tarian angguk merupakan ikon Kulonprogo yang perlu ditingkatkan gaungnya,” kata Kasdiyono, kemarin (26/1).Eksistensi budaya ini, lanjut Kasdiyono, perlu ada campur tangan pemerintah setempat agar bisa menjaga dan melestarikan tarian angguk. Peran Pemkab Kulonprogo tentu diharapkan masyarakat agar menjadi dorongan semangat sehingga keberadaan tarian angguk bisa dilestarikan sekaligus menjadi ciri khas Kabupaten Kulonprogo.”Tentunya tidak hanya sekadar tarian saja. Namun bagaimana masyarakat bisa hidup sehat melalui senam yang dikolaborasikan dengan tarian,” jelasnya.Salah satu wujud menjaga dan melestarikan tarian angguk terlihat ketika kelompok sanggar di masing-masing desa, saling adu kreativitas di Gedung Kesenian Kulonprogo dalam memperagakan tarian angguk yang dipadukan dengan gerakan senam. Masing-masing kelompok memperagakan gerakan yang berbeda-beda, namun mengutamakan tarian angguk.Praktis kegiatan itu memancing antusiasme pegiat seni di Kulonprogo. Salah satunya dari pengamat budaya, Budi Setyagraha. Ia menilai bahwa hampir disetiap Kabupaten jarang yang memiliki tarian khas. Dengan menampilkan tari atau senam angguk ini, mantan Ketua Perhimpunan Islam Indonesia (Piti) DIJ itu mengajak kepada seluruh masyarakat menjalankan tugas bersama untuk nguri-uri kebudayaan.”Ini telah menjadi jatidiri Kulonprogo, harus dikembangkan,” kata Caleg DPR RI yang diusung dari partai PAN ini.Melihat tarian angguk yang menyeluruh di beberapa desa, tentu tidak salah jika tarian angguk kini diupayakan bisa mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Sehingga bentuk kesenian yang menjadsi ciri khas Kulonprogo ini tidak mudah diklaim oleh pihak lain.”Kabupaten Kulonprogo memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan untuk kesejahteraan,” ujarnya.Sedangkan Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo berharap kedepannya akan lahir kreasi-kreasi terbaru untuk memperkuat kebudayaan daerah. Ia juga menyatakan bahwa dengan antusiasme masyarakat akan tari atau senam angguk, tentu semakin mematangkan kepribadian sebuah daerah dalam hal kesenian.”Harapan kita ke depan akan lahir lagi, kreasi-kreasi baru untuk memperkuat budaya di masyarakat,” kata Hasto. (*/iwa)