MUNGKID – Keretakan tanah di Dusun Kranjang Lor, Desa Sidosari Kecamatan Salaman kembali mendapat perhatian dari para ahli. Tidak tanggung-tanggung, keretakan tanah yang mengancam sebagian besar Dusun tersebut mendapat kunjungan dari Tim Ahli Geologi dari Negara Sakura Jepang Sabtu kemarin.
Dua tim ahli tanah longsor dari Universitas Kyoto Jepang, Professor Hiroshi Fukuoka dan Yoshitada Mito, bersama Tim Ahli Tanah dari UGM Jogjakarta Dwi Nurita meneliti fenomena tanah yang ada di desa tersebut. Didampingi Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Joko Sudibyo, mereka melihat-lihat seluruh wilayah dan menandai lebar retakan di tembok-tembok rumah warga. Dengan sejumlah peralatan seperti kompas geologi, penggaris, dan kamera, mereka mengukur dengan teliti sejumlah retakan. Termasuk diantaranya mereka juga menandai beberapa keretakan dinding-dinding rumah warga. Mereka meminta warga untuk selalu mengawasi pergerakan tanah di desa tersebut dengan teliti. Setiap warga diminta untuk membuat catatan grafik tingkat keretakan, selama musim penghujan berlangsung. Termasuk, memantau di puncak tebing. “Sebab, jika tanah tebing di atas tidak dipantau, warga rawan ketindihan. Namun, jika ukuran keretakan tanah tetap stabil, maka jangan khawatir dan tetap siaga,” ujar Ahli Tanah Longsor dari Jepang Professor Hiroshi Fukuoka. Mereka juga meminta warga yang bermukim di Dusun Kranjang Lor I dan II untuk siap dievakuasi. Evakuasi dilakukan jika hujan deras mengguyur dalam durasi lebih dari tiga jam. Serta, evakuasi perlu dilakukan bila keretakan tanah semakin melebar.
Ahli longsor dan Managemen Bencana UGM Jogjakarta Dwi Nurita menambahkan, berdasarkan pengamatan dilapangan, evakuasi penduduk dilakukan jika lebar retakan semakin meningkat selama beberapa hari ke depan. Untuk itu pemantauan perlu dilakukan dengan mencatat pergerakan tanah setiap hari. ” Kalau ada kenaikan lebar retakan, misalnya dari 10 sentimeter mendadak menjadi 11 sentimeter atau 13 sentimeter, maka sudah berbahaya. Saat itu penduduk harus melakukan evakuasi ke tempat yang aman,” pintanya.
Selain penduduk harus memantau retakan di dinding rumah, lebar retakan di tanah juga harus tetap diperhatikan. Karena, tanah yang berada di atas tebing merupakan salah satu penanda ancaman longsor dan gerakan tanah di wilayah tersebut.Penduduk juga diminta harus melihat kemiringan bangunan, seperti tiang-tiang rumah. Jika kondisi sangat miring, maka harus menyingkir karena berbahaya. “Jika hujan terjadi selama tiga jam berturut-turut, warga sebaiknya melakukan evakuasi. Sebab, air hujan mampu memicu gerakan tanah menjadi lebih parah,” ungkap dia. Dijelaskan bahwa, keretakan tanah ini dikarenakan tebing yang berjenjang-jenjang. Hal itu, diperparah dengan hujan deras yang terus mengguyur wilayah tersebut. Penyebab lainya juga karena lahan di atas tebing yang dimanfaatkan penduduk untuk kolam air yang tidak kedap air.Sehingga, kondisi itu mengakibatkan kondisi tanah gembur. “Ada resapan air, dan tanah masih aktif gerak, membuat rekahan. Maka, untuk penanggulangan perlu dibuat drainase yang kedap air,” jelas perempuan berkerudung ini. Menanggapi itu, Kepala Dusun Kranjang Lor II Kusyadi, mengaku siap melakukan rekomendasi dari Tim Ahli. Dirinya akan mempersiapkan data terkait rekomendasi dari para ahli tersebut. Warga juga nanti akan dipersiapkan untuk melakukan pemantauan pergerakan tanah. “Nanti ada pergerakan atau tidak akan kita laporkan. Kami juga akan membuat talud kedap air, agar tidak ada genangan air,” akunya.
Seperti diketahui, tanah di Dua Dusun di Desa Sidosari Kecamatan Salaman mengalami retak di 3 bagian sejak 2006 silam. Keretakan menjalar dari utara ke selatan dengan lebar keretakan 20 cm hingga 1 meter. Pada keretakan tanah jalur I diketahui sepanjang 200 meter. Sementara keretakan jalur IIsepanjang 1.500 meter dan jalur III sepanjang 300 meter.Ketiga jalur keretakan itu menjalar di dusun Krajan Lor 1 dan Dusun Krajan Lor 2.
Dari 200 rumah di dua dusun itu yang terancam ada 198 rumah. Sementara hanya 2 yang tidak terancam retakan tanah. Secara keseluruhann retakan tanah ini mengancam kehidupan 800 warga. Selain menimpa rumah, keretakan tanah ini juga menimpa perkebunan milik warga. Bahkan keretakan ini juga mengakibatkan penyempitan jalur sungai Sinan didesa itu. Kini, Sungai Sinan hanya memiliki lebar 3 meter dari sebelumnya 6 meter (ady)