JOGJA – Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Jogja terus siaga terkait tanggap bencana saat musim hujan. Terlebih, Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti sempat melontarkan instruksi langsung.
Salah satu langkah antisipasi yang dilakukan kimpraswil yakni mencemati titik genangan baru. Pencermatan dilakukan di seluruh Kota Jogja. Kepala Kimprawil Kota Jogja Toto Suroto mengatakan, penghujan membuat jajarannya selalu ekstrawaspada. Mereka senantiasa memantau saluran air hujan, drainase, dan jalan ambles.
“Memang pekerjaan rumah kimpraswil saat hujan turun dan usai hujan, banyak penggal jalan terdapat genangan air,” jelasnya kemarin (26/1). Khusus genangan air, kimpraswil terus berusaha mengumpulkan data. Sejauh ini belum ditemukan titik genangan baru. Data terbaru menyebutkan ada 15 titik genangan air. Jumlah 15 titik genangan tersebut jauh lebih sedikit dibanding jumlah titik genangan pada tahun 2004. Sekitar sepuluh tahun lalu, terdapat 125 titik genangan. Saat ini kimpraswil mengawasi sejumlah titik genangan air. Di antaranya adalah Jalan Kusumanagera, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Timoho, Jalan Kenari, dan Jalan Pangeran Diponegoro. Beberapa jalan rawan tergenang semisal Jalan Batikan dan Jalan Gambiran juga terus dipantau.
Toto menambahkan, durasi genangan air maksimal 40 menit usai hujan reda. Genangan air yang terbilang cepat hilang itu tidak menyebabkan lalu lintas menjadi mati seperti yang terjadi di Jakarta.
Ia menilai, Kota Jogja diuntungkan dengan topografi yang ada. Wilayah Kota Jogja miring ke selatan sehingga air hujan tidak mengendap lama. Air hujan segera mengalir ke titik lebih rendah.
Toto menambahkan, pemkot memiliki masterplan drainase terkait titik genangan. Dia yakin genangan air dengan ketinggian 20 sampai 40 centimeter akan mudah terurai. “Dengan begitu kendaraan dan pejalan kaki masih aman untuk melalui titik yang tergenang,” jelasnya. Meski demikian, dia mengaku perlu memutar otak jika aliran air hujan membawa tumpukan sampah. Sampah itu potensial menutup saluran drainase maupun selokan.
“Kadang sampah yang menghambat saluran air. Kita juga sudah berkoordinasi dengan BLH. Petugas kami ikut memantau jika ada tumpukan sampah yang menyumbat aliran air,” katanya. Untuk mengatasi genangan air pada 2014 ini disediakan anggaran Rp 14 miliar. Sebagian dana tersebut untuk peningkatan drainase sebesar Rp 10,5 miliar dan perawatan senilai Rp 3,5 miliar.(hrp/amd)