JOGJA –Memasuki awal 2014 ada satu perkara yang ditangani Kejati DIJ yang naik ke tahap penyidikan. Kejati mengendus adanya dugaan korupsi di tubuh PT PLN Distribusi Jawa Tengah dan DIJ Area Jogjakarta. Perkara korupsi itu terkait dengan dugaan penggelembungan anggaran pembangunan gedung senilai Rp 22 miliar.
Tindak lanjut dari penyidikan itu, kejati menetapan mantan Manajer PT PLN Area Jogjakarta Nanang Subuh Isnadi (NSI) sebagai tersangka. Ia menjabat manajer pada 2012 lalu. “Pada 2012 tidak ada anggaran untuk investasi, tapi tersangka membuat rencana dengan memanggil rekana membangun dan merenovasi gedung yang dananya diadakan pada tahun berikutnya. Nilainya sebesar Rp 22 miliar,” kata Kepala Kejati DIJ Suyadi SH kepada wartawan di gedung Kejati DIJ Jumat (24/1) lalu. Suyadi menjelaskan, keputusan menaikka ke penyidikan setelah tim penyelidik mengusut perkara itu selama satu bulan. Dari pemeriksan saksi-saksi dan sejumlah petunjuk, ditemukan adanuya indikasi kerugian keuangan negara. Dari temuan tim penyelidik, proyek pada 2012 itu dikerjakan di berbagai tempat di Jogjakarta. “Tersangkanya yakni mantan manajer PT PLN Area Jogjakarta berinisial NSI,” tambah Suyadi. Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati DIJ Pindo Kartikani SH menambahkan, pekan ini tim penyidik mulai memeriksa sejumlah saksi. Saksi-saksi itu nantinya ditanya seputar proyek tersebut. “Selasa (28/1), kami sudah mulai melakukan pemeriksaan saksi,” kata Pindo.
Kepala Seksi Penyidikan pada Aspidsus Kejati DIJ M Anshar Wahyuddin SH mengatakan, pada proyek-proyek dilakukan selama 2012 lalu ada harga yang dinilai terlalu mahal. Harga proyek yang mahal tersebut diduga merugikan keuangan negara. Jumlah saksi yang diperiksa Selasa besok berjumlah empat orang. (mar/kus)