PATUK – Situasi pelik tengah dialami pedagang buah di sepanjang jalan Patuk-Wonosari, tepatnya di Kerjan, Putat, Patuk. Puluhan pedagang gagal mengembangkan bisnis lantaran terjerat rentenir.Hal ini diungkapkan tokoh masyarakat setempat, S. Rudjiyono. Dia mengatakan, hampir seluruh pedagang buah sepanjang jalan Patuk-Wonosari terjerat hutang bank plecit alias rentenir. “Bukannya mendapat keuntungan lebih justru sekarang terbebani hutang,” kata S. Rudjiyono kemarin (26/1).Dia menjelaskan, para pedagang pada awalnya memang tidak berminat untuk hutang. Namun mengingat terdesak kebutuhan hidup dan angan-angan pengembangan usaha akhirnya sekarang malah terjebak. “Sekarang sudah terlanjur terjerat. Semakin lama hutang semakin menumpuk,” ungkapnya.Menurutnya, beba hutang pedagang jumlahnya berfariasi. Mulai dari jutaan rupiah hingga puluhan juta rupiah. Tentu sebelumnya sudah disadari bahwa bunga yang ditawarkan cukup tinggi dibanding lembaga keuangan resmi atau bank.”Hutang para pedagang ini dicicil setiap hari. Artinya, keuntungan hasil berjualan sebagian besar digunakan untuk membayar cicilan pinjaman,” ucapnya.Parahnya lagi, kata dia, karena begitu peliknya permasalahan hutang tadi ada salah satu dari pedagang terpaksa harus menjual tanah untuk membayar hutang karena jumlah pinjamannya terus menumpuk.”Untuk itu kami berharap pemerintah dan semua pihak terkait untuk segera membuat kebijakan meringankan para pedagang. Jangan sampai jeratan rentenir ini semakin mencekik leher pada pedagang sehingga berakibat gulung tikar,” pintanya.Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan, Koperasi dan ESDM Gunungkidul, Siwi Iriyani mengakui bahwa pedagang terjerat rentenir merupakan fakta. Jalan pintas memperoleh dana lalu tergoda iming-iming kemudahan syarat pinjaman menjadi salah satu faktor penyebab pelaku usaha kecil terjerat rentenir.”Kami juga akui, persyaratan meminjam ke bank memang sulit sehingga pedagang kecil tergoda tawaran rentenir,” katanya.Untuk itu sebagai upaya pencegahan jauh hari pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai keberadaan koperasi. Selain itu program kredit lunak yang banyak dikeluarkan oleh lembaga perbankan.”Masyarakat bisa memanfaatkan koperasi atau program kredit lunak dari perbankan. Jangan tergoda dengan rentenir,” ujarnya. (gun/iwa)