JOGJA – Bau tak sedap tercium saat melintas di kawasan Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Selatan Kota Jogja. Aroma yang berasal dari tumpukan sampah tersebut mengganggu kenyamanan pejalan kaki maupun pengendara.
Selain itu, bau menusuk hidung itu juga berdampak pada keindahan Keraton Jogja. Apalagi, banyak wisatawan yang berada di halaman depan dan belakang keraton tersebut.
Dari pantauan Radar Jogja kemarin siang (26/1), sampah organik dan nonorganik bertebaran di Alun-Alun Utara. Sampah itu basah. Terlihat ada lalat hijau di sana.
Tidak ada petugas yang membersihkan sampah bungkus makanan, buah-buahan, bungkus nasi bungkus, dan sampah plastik itu. Sampah teronggok di sejumlah titik.
Di Alun-Alun Selatan juga terlihat sampah yang berserakan. Tampak turis asing menutup hidung saat melintasi genangan air dan tumpukan sampah.
Sejumlah wisatawan juga tampak melakukan masangin. Mereka berusaha berjalan dengan mata tertutup untuk menembus dua pohon beringin yang berada di tengah-tengah Alun-Alun Selatan.
Wisatawan asal Pemalang, Jawa Tengah, Fitriana, 31, mengaku baru pertama kali berkunjung di Keraton Jogja. Menurutnya, sampah yang ada di alun-alun cukup mengganggu.
“Tapi sampahe kok akeh. Tur mambu maneh, akeh lalat,” ujar Fitriana.
Saat dikonfirmasi, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja Irfan Susilo mengaku cukup dibuat pusing dengan sampah yang bersebaran di Alun-Alun Utara. Menurutnya, kesadaran masyarakat, wisatawan, dan pedagang untuk ikut berperan menjaga kebersihan kawasan tersebut perlu ditingkatkan.
Dia menegaskan, ada banyak titik tempat pembuangan sampah di sekitar alun-alun. Tempat sampah itu seharusnya mampu untuk menampung sampah yang dibuang oleh para masyarakat, wisatawan, dan pedagang.
“Ya piye yo. Kembali lagi pada kesadaran masyarakat, wiasatawan, dan pedagang untuk menjaga kebersihan. Tempat sampah sudah difasilitasi. Untuk membuang sampah pada tempat yang disediakan. Tapi kenyataannya banyak sampah yang berserakan bahkan menimbulkan bau tak sedap,” keluh Irfan kemarin (26/1).
Adanya keluhan masyarakat dan wisatawan tersebut membuat BLH dalam waktu dekat akan melakukan koordinasi demi membersihkan sampah di kawasan alun-alun. Langkah ini dinilai penting mengingat saat ini hujan kerap mengguyur. Sampah yang menumpuk dapat menyebabkan munculnya penyakit.
“Kita akan koordinasikan dengan kecamatan, masyarakat, dan paguyuban secepatnya untuk kerja bakti masal,” ujarnya.
Irfan menambahkan, kurangnya kesadaran membuang sampah pada tempatnya juga mengilhami BLH melakukan antisipasi. BLH bersama UPT Malioboro siap membentuk tim penanggulangan sampah.
Tapi, tim khusus itu baru akan diterjunkan untuk mengawasi kebersihan di kawasan Titik Nol Kilometer. Sedangkan untuk kawasan Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Selatan, pembersihan sampah masih dilakukan BLH bersama pihak ketiga.
“Untuk tim penanggulangan sampah masih dikaji terkait teknis dan penanganannya nanti,” ungkapnya.
Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti juga memberikan respons. Dia mengimbau masyarakat dan komunitas ikut mengawasi kebersihan di lingkungan tempat tinggalnya.
Menurutnya, menciptakan Kota Jogja yang penuh kenyamanan dan keramahan juga membutuhkan peran nyata dari warganya. “Harapannya, mari kita jaga kebersihan Kota Jogja yang nyaman ini,” katanya. (hrp/amd)