JOGJA– Pemkot Jogja terus mematangkan rencana menjadikan Malioboro sebagai kawasan semi pedestrian atau pejalan kaki. Assekda Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Jogja Aman Yuradijaya penetapan kawasan semi pedestrian dilakukan mulai 2015.
“Tahun depan diharapkan bisa terlaksana,” kata Aman saat ditemui di Malioboro, kemarin (26/1).
Bekas kepala Bappeda ini, untuk tahap awal pada 2014 ini dilakukan seminggu sekali. Itu sebagai langkah persiapan sekaligus menunggu realisasi dari kebijakan Pemprov DIJ. Bila kebijakan itu direalisasikan bakal terjadi sejumlah perubahan. Di antaranya, pemkot akan memindahkan lokasi parkir.
“Kami terus mengadakan sosialisasi dan memberikan masukan ke pemprov,” tegas alumnus Fakultas Pertanian Universitas Diponegoro Semarang ini.
Tentang persiapan menjadikan Malioboro sebagai kawasan pedestrian dimulai dengan diluncurkannya program car free day atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) setiap Minggu pagi mulai pukul 06.00-09.00.
Dengan adanya HBKB itu diharapkan menjadi sarana sosialisasi kepada masyarakat dan komunitas di Malioboro. Lokasi yang menjadi pusat HBKB itu berada di sepanjang Jalan Margo Mulyo atau Ahmad Yani mulai pertigaan Ngejaman hingga Titik Nol Kilometer perempatan Kantor Pos Besar Jogjakarta. Selama tiga jam, kendaraan dilarang melintas di kawasan tersebut. Arus lalu lintas selanjutnya dialihkan melalui Jalan Pabringan dan Jalan Reksobayan. Sejumlah anggota Satlantas Polresta Jogja ditempatkan di lokasi. Dipilihnya lokasi itu karena jumlah lokasi parkir relatif sedikit. Tak jauh dari kawasan itu juga ada Benteng Vredenburg maupun Istana Gedung Agung.
“Ini sebagai uji coba kawasan pedestrian,” terang birokrat yang mengawali karir sebagai PNS di lingkungan Dinas Peternakan Kota Jogja ini.
Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS) yang meluncurkan program itu meyakini dengan menjadikan Malioboro kawasan semi pedestrian akan membuat nyaman warga Jogja. Tak hanya itu, program itu juga memberikan ruang berekspresi bagi masyarakat. Contohnya ada keluarga perguruan pencak silat di Jogja yang meminta disediakan ruang selama HBKB tersebut.
“Kami tidak akan membeda-bedakan. Semua masyarakat bisa memakai jalan setiap Minggu untuk berolahraga, duduk menikmati pagi hari, dan ruang berekspresi ,” ungkap HS.
Suami dari Tri Kirana Muslidatun tersebut mengaku ingin membangun kemandirian dengan Semangat Gotong Royong Agawe Majune Ngayogyakarta atau Segoro Amarto bersama masyarakat Jogja.
Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan ESDM Provinsi DIJ Rani Sjamsinarsi mengapresiasi sosialiasi menjadikan Malioboro sebagai kawasan semi pedestrian yang giat dilakukan pemkot. Ia mendukung kegiatan tersebut. Sebagai upaya itu, Rani tengah menata parkir alun-alun utara dan bekas Stasiun Ngabean.
Terkait dengan program itu, pada Selasa (28/1) besok, wali kota akan memberikan paparan di depan Gubernur DIJ Hamengku Buwono X.
“Kami saling memberikan masukan dan koordinasi. Jangan sampai dalam pelaksanaannya memunculkan persoalan baru baik di pemprov maupun pemkot ,” ujarnya.(hrp/kus)