JOGJA – Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIJ Baskara Aji menyatakan, siswa SD di DIJ tidak akan ada lagi yang tinggal kelas. Kebijakan tersebut berlaku bagi kelas I hingga VI.
“Dalam pendidikan modern tidak boleh memberikan pendidikan keseragaman. Setiap siswa berhak mendapatkan perlakuan yang berbeda-beda dari para guru. Maka tidak ada lagi siswa tinggal kelas karena kemampuan kognitif yang rendah,” kata Aji dalam taklshow parenting
Peran Keluarga Dalan Menumbuh Kembangkan Kebiasaan-Kebiasaan Hidup Positif (Habits Forming) Kini dan Esok, di Hotel Santika, Minggu (26/1). Aji menjelaskan, kebijakan tersebut akan diberlakukan di Jogjakarta. Sebelumnya, di Jakarta sudah memberlakukan kebijakan tersebut hanya saja baru sebatas siswa kelas I hingga III. Dengan tidak adanya lagi siswa yang tinggal kelas, Aji berharap guru mampu menyeimbangkan antara memahami pengetahuan dan implementasi pengetahuan. Paling tidak, tambah Aji, antara memahami ilmu pengetahuan dan mengimplementasikan pengetahuan seimbang. Dari penelitian yang dilakukan oleh Disdikpora dan tim dari UGM mengemuka, bahwa siswa yang belajar memahami pengetahuan lalu ditambahkan dengan pengembangan sikap, secara otomatis bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih cepat. Bahkan tanpa memberikan ilmu pengetahuan sekalipun bila kemampuan kepribadian dikembangkan dengan baik mereka akan dengan sendirinya mendapatkan pengetahuan tersebut. Sementara itu dalam talkshow kemarin juga diluncurkan SD Primagama. SD tersebut akan menggunakan kurikulum nasional plus yang berorientasi pada kurukulum pendidikan nasional dan kurikulum inti sekolah (Pendidikan Islam.red). Aji berharap SD Primaga menjadi sekolah yang juga mengembangkan cerdas istimewa bakat istimewa (CIBI). Hanya saja, Aji tidak menghendaki dibukanya kelas akselerasi. “Nggak perlu kelas akselerasi. Siswa yang cepat dengan matang diberikan saja pengayaan. Sehingga saat sudah di SMP dia bisa menguasai materi dan bisa mengajari siswa lainnya,” katanya.
Sementara itu di tempat yang sama, artis senior yang kini menjadi seorang aktivis pendidikan, Neno Warisman mengatakan orang tua harus terlibat utuh dalam pengembangan pendidikan anak. Sebab anak memiliki ikatan yang sangat kuat dalam mencontoh perilaku orang tua. “Orang tua dan para guru harus bisa mengajar dengan hati. Tidak hanya mengejar kognitifnya saja,” jelasnya. Sementara itu Direktur SD Primagama, Baiq Nur Hasri Kesuma menjelaskan, program di SD Primagama adalah meumbuhkembangkan siswa dengan memadukan berbagai dimensi keagamaan. Selain keagamaan, pendidikan juga dipadu dengan soft skill, hidup positif, serta kewirausahaan. “Dengan berdasar pada setiap individu berbeda, sehingga semua aspek kecerdasaan dapat tereksplore optimal dalam suasana belajar yang menyenangkan,” tandasnya. (bhn)