MUNGKID – Balai Konservasi Borobudur (BKB) menaruh perhatian serius akan keberadaan Candi Borobudur pascagempa, Sabtu (25/1) lalu. Lima petugas dari BKB terjun langsung mengukur posisi Candi Buddha tersebut.Mereka khawatir, gempa dengan 6,5 SR tersebut bisa merubah posisi candi yang ada di Desa Borobudur tersebut.Dengan menggunakan berbagai peralatan seperti GPS, total station, dan inklimometer, mereka berkeliling ke beberapa lantai candi. Mereka mengukur dan mengecek posisi beberapa dinding Candi.”Inclinometer adalah alat mengukur pergerakan tanah. GPS digunakan mengetahui posisi yang kemudian disambungkan ke satelit. Agar nantinya bisa diketahui posisi candi secara astrononisnya,” jelas Kepala BKB Marsis Sutopo. Marsis melanjutkan, sebelumnya BKB sudah mengetahui posisi Candi Borobudur melalui GPS. Kemudian pengukuran ulang ini nantinya bisa dibandingkan dengan data terakhir posisi GPS sebelum terjadi gempa.”Sehingga (data) nanti setelah diolah, apakah ada pergeseran yang cukup signifikan atau pergeseran masih dalam toleransi,” imbuhnya.Dijelaskan, seminggu sekali BKB selalu mengunduh data posisi Candi Borobudur. Hingga kemarin (27/1), diketahui belum ada pergerseran. Kemudian, setelah gempa yang terjadi, BKB mengunduh lagi dan menganalisis, apakah ada perubahan atau tidak.”Kami lacak lebih lanjut. Nantinya, hasil ini untuk penelitian lebih lanjut,” jelasnya.Ia menambahkan, selain mengukur melalui GPS, dirinya juga melakukan pengukuran secara manual. Tujuannya sama, ingin mengetahui perubahan titik tinggi Candi Borobudur dan sebagainya.”Mencari, ada bagian titik tertentu yang meleset atau tidak . Itu nanti dikaji secara komprehensif. Secepatnya akan dianalisis. Nanti 3 – 4 hari ke depan akan diketahui hasilnya,” katanya.Selain mengukur posisi Candi Borobudur, BKB juga mengukur posisi candi lain yang ada di Kabupaten Magelang. Salah satunya Candi Mendut di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid.(ady/hes)