Seni wayang orang (WO) Keraton Jogja dibukukan dalam bahasa Inggris berjudul Wayang Orang Theater from Palaces of Java to The World. Buku tersebut diterbitkan Yayasan Sujana Said Foundation yang bergerak di bidang pelestarian budaya Jawa.
Heditia Damanik, Jogja
Executive Director and President Sujana Said Foundation RM. A.L.K. Darmo Purwito mengatakan, buku tersebut mendokumentasikan kesenian WO Keraton Jogja yang makin jarang dipentaskan. Selain WO Keraton Jogja, buku tersebut juga mengulas WO dari Pura Mangkunegaran Surakarta.
“Wayang orang itu sudah masuk dalam UNESCO dan termasuk masuk dari wayang bertutur. Kalau sudah masuk UNESCO, kita harus tetap menjaganya agar terus hidup. Bila sampai mati, nanti akan dicoret,” ujar Darmo usai bertemu Gubernur DIJ Hamengku Buwono X di kompleks Kepatihan, kemarin (27/1).
Menurut dia, WO Keraton Jogja semakin jarang ditampilkan. Saat ini, WO yang sering dipentaskan adalah gagrak (gaya) Surakarta. Alasannya, WO gagrak Jogja lebih rumit dan pakemnya sangat ketat. Karena itu, banyak pihak yang kemudian lebih banyak yang memilih gaya Surakarta.
“Karena itu, di buku ini kami munculkan,” jelas Darmo.
Sasaran pembaca utama dari buku tersebut adalah anak muda dan orang asing. Karenanya, buku tersebut ditulis dalam bahasa yang populer namun tetap memenuhi kaidah penulisan akademik. Dia dibantu seorang editor dari Australia. Selain itu, lanjutnya, buku didominasi foto – foto. “Supaya tertarik lihat fotonya dulu, kemudian akan membaca ceritanya,” kata pria yang juga menjadi penulis dan fotografer ini.
Dikatakan, banyak anak muda yang kurang tertarik menonton wayang. Ada sejumlah alas an mendukung kenyataan itu. Pertama, karena mereka tidak mengerti filosofi dari wayang tersebut. Sedangkan, kedua karena mereka tidak tahu bahasa Jawa.
Berdasarkan penelitan dari UGM, lanjutnya, bahasa Jawa berada di ambang kepunahan. Walaupun penutur bahasa Jawa di dunia mencapai 70 juta orang, namun tidak banyak yang bisa menggunakan bahasa Jawa secara formal. Hal tersebut disebabkan banyak hal.
Termasuk semakin berkurangnya pelajaran bahasa Jawa di sekolah. “Atau kalau dalam proses belajar mengajar pakai bahasa Jawa ngoko. Padahal bahasa Jawa itu ada tujuh tingkatan,” kata pria yang juga masih keturunan HB I tersebut.
Selain buku tentang wayang orang, akan ada dua buku lagi yang diterbitkan secara bersamaan pada Mei mendatang. Yakni tentang tarian sakral di Keraton Jogja, Keraton Surakarta, dan budaya Gomboh dari Bali. Untuk cetakan pertama akan ada 2.500 eksemplar yang didistribusikan secara internasional. Dalam buku tersebut, HB X menuliskan prakata.
“Sultan (HB X) minta agar ditulis budaya dari daerah lain juga. Mungkin nanti ya, karena ini juga terkait dengan sumber daya dan funding,” jelas dia.
Dalam pertemuan dengan HB X, Darmo didampingi Kepala Dinas Kebudayaan DIJ GBPH Yudhanegara. Berbicara soal budaya, menurut Yudha pertemuan tersebut tidak ada kaitannya dengan danais. “Mereka tidak mau kerja sama soal dana dengan pemerintah. Cuma support saja,”ujar putra HB IX yang lahir dari garwa dalem KRAy Hastungkoro ini.
Soal data, instansinya siap menyuplai. Menurut dia, soal pewayangan DIJ punya data lengkap. “Sudah didokumentasikan mulai dari klasik hingga dalangnya,” terangnya. (*/kus)