EMOH DIAPUSI: Para pedagang Pasar Tradisional Sentolo mendatangi Gedung DPRD Kulonprogo meminta kejelasan nasib mereka, kemarin.
WATES – Puluhan pedagang pasar tradisional Sentolo bersama tokoh masyarakat dan Forum Sentolo Rembug (FSR) melakukan aksi unjuk rasa di Gedung DPRD Kulonprogo. Pada prinsipnya, para pedagang pasar tradisional Sentolo menginginkan keberadaan pasar tidak dialihfungsikan seperti wacana yang belakangan berkembang. Selain itu mereka meminta kontribusi dewan dalam memberikan solusi terkait persoalan para pedagang.Sambil membawa poster berisi penegasan bahwa pasar tradisional harus tetap dipertahankan, puluhan pedagang ini satu per satu menyampaikan orasinya di depan gedung dewan. Mereka tetap bersikukuh berjualan di pasar tradisional Sentolo, meski muncul wacana bahwa pemerintah akan mengubah pasar itu menjadi pasar niaga.Beberapa perwakilan pedagang pasar tradisional Sentolo, tokoh masyarakat dan FSR kemudian melakukan dialog terbuka dengan Komisi II DPRD Kulonprogo, termasuk pihak eksekutif dalam hal ini Sekda Kulonprogo dan Dinas UMKM Kulonprogo. Dalam audiensi itu, mereka menginginkan adanya kejelasan status pasar tradisional Sentolo dalam upaya penataan. Sebab selama ini yang membingungkan pedagang munculnya rencana perubahan pasar tradisional menjadi pasar niaga.”Pemerintah harus mempertegas, seperti apa konsep penataan pasar tradisional Sentolo. Jangan sampai muncul wacana yang membingungkan. Sedangkan di sisi lain, kami tetap menginginkan pasar itu tetap eksis,” kata salah seorang tokoh masyarakat Sentolo, Anang Subagyo di ruang rapat Komisi II DPRD Kulonprogo, kemarin (27/1).Pihaknya juga menegaskan bahwa selama ini tidak ada upaya menghalang-halangi pedagang di pasar tradisional Sentolo yang ingin pindah ke pasar percontohan Sentolo. Meski kondisi saat ini sudah ada sebagian pedagang yang pindah, hal itu tidak berpengaruh terhadap aktivitas pedagang di pasar tradisional Sentolo.Beberapa pedagang yang melakukan audiensi juga menyangkal pernyataan bahwa jumlah pedagang di pasar tradisional Sentolo berjumlah sekitar 33 orang. Padahal dalam kenyataannya, saat ini jumlah pedagang di pasar itu sekitar 200 lebih. Sehingga hal itu menjadi indikasi bahwa pedagang tetap nyaman berjualan di pasar yang disebut-sebut sebagai pasar kasultanan itu.Atik, salah seorang pedagang pasar tradisional Sentolo mengaku berjualan di pasar lama menjadi satu-satunya sumber pendapatan untuk membiayai kehidupannya. Ia juga keberatan jika ada sekelompok pedagang yang mengajak untuk pindah ke pasar percontohan Sentolo.”Adanya perlakuan untuk pindah, jujur kami sangat tidak nyaman. Ya, silakan yang di pasar lama tetap jualan, di pasar percontohan juga silakan, tidak kemudian ada intimidasi,” kata Atik.Setelah berlangsung audiensi hampir dua jam, kemudian beberapa pedagang pasar tradisional Sentolo menyampaikan poin-poin terpenting kepada dewan. Di antaranya agar keberadaan pasar Sentolo yang notabene pasar kasultanan, harus dipertahankan eksistensinya. Selain itu, mereka juga menginginkan agar pemerintah mengembalikan pengelolaannya ke desa setempat, serta mereka tetap menolak rencana alih fungsi pasar menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH), pasar kuliner, ataupun pasar niaga.Sementara itu Sekda Kulonprogo Astungkoro menjelaskan bahwa terkait tuntutan pedagang pasar tradisional untuk mengembalikan status pengelolaan ke Desa Sentolo, tentu hal itu menunggu keputusan dari gubernur. Sebab hal itu menyangkut pelepasan aset pemerintah kepada masyarakat.”Pertama yang harus diakomodir soal pelepasan aset pemerintah, kedua soal pengelolaan pasar oleh desa setempat. Tentunya kami harus koordinasi dalam penghapusan aset pemerintah yang dikembalikan ke desa,” kata Astungkoro.Kemudian, jika pengembalian aset sekaligus pengelolaan sudah ditangani desa setempat, tentu pemerintah tidak lagi campur tangan. Dalam perkembangannya nanti, jika terjadi over kapasitas, tentunya desa yang akan melakukan penataan. Meski demikian, pasar desa tetap akan diakomodir dengan catatan aset terlebih dulu harus dilepas.”Pada prinsipnya tidak ada upaya menelantarkan. Nanti kami koordinasikan penataannya seperti apa,” kata Astungkoro.Ketua Komisi II DPRD Kulonprogo, Yusron Martofa menegaskan bahwa sejauh ini dewan belum mengetahui secara konkret mengenai rencana pemerintah dalam melakukan penataan di pasar tradisional Sentolo. Sedangkan yang menjadi catatan, pemerintah seharusnya konsisten mengenai rencana penataan sekaligus fungsi dari pasar itu.”Rencana penataan pasar kami belum tahu konsepnya seperti apa. Namun yang jelas, pemerintah seharusnya konsisten dalam menyampaikan kebijakannya,” kata Yusron. (fid/iwa)