JOGJA-Daerah-daerah yang selama dikenal sebagai basis massa salah satu partai politik (parpol) menjadi titik perhatian dari aparat TNI. Mereka memetakan daerah-daerah yang memiliki massa fanatik sebagai antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi konflik.
“Saya sudah perintahkan bintara pembina desa (Babinsa) untuk memetakan kerawanan di masing-masing daerah tugasnya,” kata Komandan Kodim 0734 Kota Jogja Letkol (Arh) Ananta Wira kemarin (27/1).
Ananta mengungkapkan, babinsa sebagai aparat teritorial, tak hanya bertugas memetakan kerawanan. Mereka juga dituntut bisa meredam potensi konflik. “Sebelum membesar, babinsa harus bisa meredam. Itu langkah pertama agar tidak terjadi konflik yang membesar,” imbuh Ananta. Perwira menengah TNI ini menegaskan, suasana menjelang pemilu sudah semakin panas. Terutama di daerah yang berlatar belakang basis massa fanatik yang berbeda parpol. “Komunikasi intensif dengan semua pihak. Itu syarat untuk meminimalisasi agar tidak terjadi bentrokan yang besar,” pesannya . Peran Babinsa, tambah dia, juga harus dimaksimalkan untuk mengetahui kemungkinan adanya persoalan di kampung, RT, atau RW. “Kami memiliki aparat teritorial. Kita harus bisa membaca perkembangan situasi dan harus mengetahui situasi yang real di lapangan,” sambungnya.
Di tingkat kecamatan, Koramil juga harus bisa memetakan ancaman di tingkat kelurahan . Di tingkat kecamatan, Komando Distrik Militer (Kodim) yang bertanggung jawab. Koramil dituntut aktif mempersiapkan diri. “Tak boleh terjadi kejadian yang merugikan kita semua dan merugikan hasil pembangunan,” lanjutnya.
Tapi, jika nantiny terjadi bentrok, lanjut Ananta, TNI siap untuk mengantipasi hal terburuk itu. Ini sesuai dengan tugas dari TNI menjalankan operasi militer, selain perang sebagaimana diatur UU No 34 / 2004 tentang TNI. “Saat operasi militer selain perang, TNI bekerja sama dengan Polri. Jadi, tidak bisa ujug-ujug TNI langsung turun,” tambahnya. Hanya saja, dengan segela kondisi TNI AD harus siap. Ini, mereka lakukan dengan menyiapkan pasukan anti huru hara (PHH). Di tingkatan Kodim, akan disiagakan 1 satuan setingkat peleton (SST) atau sekitar 30 prajurit. Kepala Polresta Jogja Kombes Slamet Santoso menegaskan, ancaman konflik antarmassa fanatik menjadi salah satu kewaspadaannya. Sebab, jika nantinya terjadi bentrok antarmassa ini, kerugian bakal lebih besar. Terutama, jika ada caleg yang sudah mulai frustasi. Itu kian menambah potensi konflik. Karena, caleg yang sudah stres ini, berpeluang membuat suasana gaduh. “Bisa nanti berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan,” tambahnya. (eri/kus)